Scroll untuk baca artikel
Nusantara

185 KK di Nabire Kesulitan Air Bersih, Kementerian PU Salurkan 9.200 Liter

Admin
×

185 KK di Nabire Kesulitan Air Bersih, Kementerian PU Salurkan 9.200 Liter

Sebarkan artikel ini
185 KK di Nabire Kesulitan Air Bersih, Kementerian PU Salurkan 9.200 Liter
185 KK di Nabire Kesulitan Air Bersih, Kementerian PU Salurkan 9.200 Liter

MITRAPOL.com, | Nabire Papua Tengah — Sebanyak 185 kepala keluarga (KK) di tiga titik permukiman di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih setelah sumur yang menjadi sumber utama kebutuhan warga mengering.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak pada Kamis (27/8/2026).

Distribusi air dilakukan di tiga lokasi, yakni SP C Jalur 3, SP 1 Jalur 2 Timur, dan SP 1 Jalur 1 Timur.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi bagian penting dalam penanganan dampak kekeringan, terutama ketika sumber air utama masyarakat mulai mengering.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipastikan ketersediaannya. Ketika sumber air warga mengalami kekeringan, Kementerian PU melalui jajaran di lapangan harus bergerak untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Kita akan terus memantau kondisi dan memastikan dukungan diberikan sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Dody.

Kebutuhan Air Capai 37 Ribu Liter per Hari

Dalam penyaluran tersebut, Kementerian PU mendistribusikan sebanyak 9.200 liter air bersih menggunakan dua unit dump truck yang membawa empat tandon, masing-masing berkapasitas sekitar 2.300 liter.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, kebutuhan air bersih masyarakat diperkirakan mencapai sekitar 200 liter per KK setiap hari.

Dengan jumlah sekitar 185 KK terdampak, kebutuhan air bersih di tiga lokasi tersebut diperkirakan mencapai 37.000 liter per hari.

Rinciannya, sekitar 60 KK di SP C Jalur 3 mengalami kesulitan air setelah sumur warga mengering. Kondisi serupa terjadi di SP 1 Jalur 2 Timur yang dihuni sekitar 60 KK.

Sementara itu, sekitar 65 KK di SP 1 Jalur 1 Timur juga mengalami persoalan serupa akibat menurunnya ketersediaan air dari sumur warga.

Ketika sumur mengering, masyarakat di sejumlah lokasi terpaksa memanfaatkan sumber air alternatif dari Sungai Kalibumi yang berjarak sekitar 2 kilometer dari permukiman.

Jarak tersebut membuat pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan membutuhkan dukungan secara berkelanjutan.

Kekeringan Berdampak pada Fasilitas Umum

Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga. Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan puskesmas juga ikut terdampak akibat terbatasnya ketersediaan air.

Karena itu, distribusi air bersih diperlukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk menjaga aktivitas pelayanan masyarakat tetap berjalan.

Kementerian PU melalui BWS Papua menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan melakukan distribusi air bersih secara berkala sesuai kebutuhan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh akses terhadap air bersih selama kondisi kekeringan berlangsung.