Scroll untuk baca artikel
Opini

Kapan Terakhir Wartawan Turun ke Pasar?

Admin
×

Kapan Terakhir Wartawan Turun ke Pasar?

Sebarkan artikel ini
Kapan Terakhir Wartawan Turun ke Pasar?
Hendr Ch Bangun

Catatan Jurnalistik Hendry Ch Bangun

Ciputat, 31 Agustus 2026 — Kapan terakhir kali seorang wartawan pergi ke pasar bukan untuk berbelanja, tetapi untuk mencari berita?

Pertanyaan sederhana itu belakangan sering muncul dalam pikiran saya.

Bukan karena pasar selalu menghasilkan berita besar, melainkan karena di tempat seperti itulah wartawan dapat melihat kehidupan masyarakat secara langsung: harga kebutuhan pokok, keluhan pedagang, daya beli, perubahan perilaku konsumen, hingga persoalan sosial yang terkadang tidak terlihat dari balik meja kantor.

Ketika menjadi wartawan Kompas pada masa kejayaan media cetak, saya terbiasa datang lebih awal ke lokasi penugasan. Setidaknya 15 menit, bahkan kadang setengah jam sebelum acara dimulai.

Kebiasaan itu bukan semata-mata soal disiplin waktu. Datang lebih awal membuat wartawan memiliki kesempatan untuk mengenali medan, berbincang dengan orang-orang di sekitar lokasi, memahami konteks acara, dan mengetahui siapa saja yang akan menjadi narasumber.

Saya pun selalu mengajarkan kebiasaan tersebut kepada reporter baru ketika menjadi mentor di Kompas maupun saat menjadi pimpinan di Warta Kota.

Bagi wartawan, datang lebih awal berarti memperoleh kesempatan lebih banyak untuk melihat sesuatu yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Pengalaman panjang sebagai wartawan olahraga membuat saya semakin memahami pentingnya turun langsung ke lapangan.

Ketika meliput olahraga di kawasan Senayan, misalnya, saya bisa berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor untuk menemui atlet dan pelatih. Saat itu perkampungan atlet masih menjadi tempat tinggal sejumlah atlet pelatnas.

Wawancara tidak selalu berlangsung di ruang formal. Kadang kami berbincang di halaman, di atas rumput, atau sambil menikmati semangkuk bakso.

Saya pernah meliput pemusatan latihan atletik di Pangalengan, balap sepeda di Subang, dayung di Waduk Jatiluhur, hingga berbagai kejuaraan olahraga di dalam dan luar negeri.

Sering kali saya berusaha menginap di lokasi pelatihan. Tujuannya bukan sekadar memperoleh berita, tetapi memahami suasana fisik dan psikologis atlet serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelatih dan narasumber.

Dari pengalaman itu saya belajar satu hal: berita yang baik sering kali lahir dari kedekatan wartawan dengan realitas, bukan hanya dari siaran pers.

Ketika ikut merintis Warta Kota bersama sejumlah wartawan Kompas, kelompok majalah dan Persda, saya meninggalkan kenyamanan sebagai wartawan media nasional.

Saya memang meminta kepada almarhum Jakob Oetama untuk bergabung dengan tim baru.

Ada keinginan untuk kembali merasakan bagaimana membangun media dari bawah, bukan sekadar menjadi bagian kecil dari sebuah mesin media yang sudah besar.

Di Warta Kota, kami kembali mendatangi kantor kelurahan, kecamatan, balai kota, pasar, terminal, permukiman dan berbagai sudut Jakarta.

Ketika media baru mulai diperkenalkan, kami harus menjelaskan kepada calon narasumber apa itu Warta Kota.

Tidak sedikit yang menolak. Bahkan tawaran iklan gratis pun pernah tidak mendapatkan respons.

Karena itu, kami mencari pembeda.

Salah satunya adalah intensitas turun ke lapangan dan keberanian mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Kami melakukan survei secara rutin untuk mengetahui karakter dan kebutuhan pembaca. Dari sana, liputan disesuaikan dengan apa yang benar-benar ingin diketahui masyarakat.

Hasilnya tidak instan. Namun setelah melalui perjuangan panjang, Warta Kota pernah menjadi salah satu koran kota dengan oplah besar di Jabodetabek.

Pelajaran terpenting bagi saya bukan soal angka oplah. Yang lebih penting adalah bagaimana kepercayaan pembaca dibangun melalui pemahaman terhadap kebutuhan mereka.

Ada satu kebiasaan yang saya warisi dari ayah saya.

Ketika pertama kali menjadi wartawan Harian Waspada di Rantau Prapat, Sumatera Utara, pada 1953, beliau hampir selalu menyempatkan diri datang ke pasar.

Kebetulan tempat tinggalnya dekat Pekan Lama.

Pagi hari, sebelum menjalankan tugas jurnalistik, beliau bisa sarapan teh manis, ketan, dan pisang goreng.

Namun sarapan itu sekaligus menjadi kesempatan untuk mengamati harga kebutuhan masyarakat.

Pesan beliau yang sampai sekarang saya ingat sederhana.

“Kalau disuruh atasan tanya harga cabai, jangan berhenti di situ. Tanya semua harga tomat, bawang, sayur-mayur, termasuk beras. Supaya nanti tidak disuruh balik lagi.”

Nasihat itu sederhana, tetapi sebenarnya mengandung prinsip jurnalistik yang penting: jangan berhenti pada pertanyaan pertama.

Kalau wartawan hanya bertanya harga cabai, ia hanya mendapatkan harga cabai.

Tetapi jika ia bertanya tentang beras, minyak, telur, sayuran, biaya sewa tempat, daya beli dan pendapatan pedagang, ia mulai mendapatkan gambaran kehidupan masyarakat.

Itulah mengapa pasar bagi wartawan sesungguhnya adalah laboratorium sosial.

Ketika berkantor di kawasan Kota, saya banyak menemukan cerita yang tidak selalu terlihat dari permukaan.

Kami menggali sejarah Pecinan, nama-nama kawasan seperti Petak Sembilan, Pecah Kulit, Luar Batang, Jembatan Kota Intan, Benteng Jakarta dan Pintu Besar.

Kami berbicara dengan pedagang, tukang kaca, penjual perlengkapan kapal, pelukis, pengelola rumah abu hingga pedagang mainan di Asemka.

Dari percakapan-percakapan sederhana itu, muncul banyak persoalan sosial yang kemudian dapat menjadi bahan liputan.

Ketika kantor pindah ke Palmerah pada 2011, saya kembali sering berjalan ke pasar.

Berbincang dengan pedagang beras, buah, telur, penjahit, tukang servis jam, hingga pekerja salon.

Dari mereka saya mendengar cerita tentang penghasilan yang tidak menentu, iuran pasar, tekanan ekonomi, hingga hubungan pedagang dengan petugas.

Tidak semua cerita itu kemudian menjadi berita.

Dan memang tidak harus.

Ada informasi yang cukup disimpan sebagai pengetahuan wartawan karena jika dipublikasikan tanpa verifikasi dan perlindungan yang tepat, justru dapat membahayakan sumber.

Di sinilah wartawan harus memahami bahwa mencari informasi tidak selalu berarti harus segera menerbitkannya.

Saya juga pernah melihat bagaimana sebuah kawasan dapat berubah seketika ketika pejabat datang.

Lingkungan yang biasanya penuh pedagang kaki lima dan aktivitas masyarakat bisa mendadak terlihat bersih dan tertib. Setelah pejabat pergi, kondisi kembali seperti semula.

Bagi wartawan yang hanya datang ketika acara berlangsung, perubahan semacam itu mungkin tidak terlihat.

Tetapi bagi wartawan yang biasa berjalan kaki, naik kendaraan umum, duduk di warung, berbincang dengan pedagang atau sekadar mengamati lingkungan, ada konteks yang lebih luas.

Itulah pentingnya jurnalisme lapangan.

Wartawan tidak cukup hanya mengetahui apa yang dikatakan pejabat. Wartawan juga perlu mengetahui bagaimana kebijakan itu dirasakan masyarakat.

Tidak semua wartawan harus meninggalkan kantor dan setiap hari pergi ke pasar.

Tetapi sesekali turun dari rutinitas konferensi pers, grup WhatsApp, siaran pers, dan meja redaksi adalah cara sederhana untuk mengingat kembali mengapa profesi ini ada.

Bagi saya, pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi.

Pasar adalah tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat. Di sana ada pedagang, pembeli, buruh angkut, pengemudi, pemilik kios, pedagang kaki lima, petugas kebersihan dan berbagai profesi lainnya.

Ada cerita tentang harga. Ada cerita tentang pekerjaan. Ada cerita tentang keluarga. Ada cerita tentang pendidikan anak. Ada cerita tentang utang. Ada cerita tentang harapan.

Tugas wartawan adalah mendengarkan, menguji informasi, mencari konteks, melakukan verifikasi dan kemudian menyajikannya secara bertanggung jawab.

Karena itu, saya sering bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali kita ke pasar?

Bukan untuk membuat konten.

Bukan untuk sekadar mencari sensasi.

Tetapi untuk mendengar suara masyarakat yang mungkin tidak pernah sampai ke ruang konferensi pers.

Sebab pada akhirnya, jurnalistik bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mendapatkan pernyataan pejabat.

Jurnalistik juga tentang siapa yang paling mampu memahami kehidupan manusia di balik sebuah peristiwa.

Mungkin pengalaman saya ini terdengar sederhana, bahkan recehan, dibandingkan wartawan yang setiap hari meliput kementerian, DPR, MPR, kepolisian, kejaksaan, pengadilan atau lembaga negara lainnya.

Namun justru pengalaman berjalan kaki, naik mikrolet, duduk di warung, berbincang dengan pedagang dan masuk ke pasar itulah yang memperkaya cara saya melihat dunia.

Ada kehidupan yang enak dan tidak enak.

Ada keberhasilan dan kegagalan.

Ada kebijakan yang terlihat bagus dari atas, tetapi terasa berbeda ketika sampai ke bawah.

Dan semua itu hanya bisa dipahami jika wartawan mau turun melihatnya sendiri.

Jadi, kapan terakhir kali kita ke pasar?

Wallahu a’lam bishawab.