MITRAPOL.com, Bandar Lampung – Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga) hingga Rabu (9/9/2026), meski aktivitas vulkaniknya berdasarkan pemantauan terbaru menunjukkan kecenderungan menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Pemerintah Provinsi Lampung bersama TNI AL, BPBD, Basarnas, dan akademisi Institut Teknologi Sumatera (Itera) melakukan pemantauan langsung dari perairan Selat Sunda menggunakan KRI Lepu 861.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan tim mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau hingga sekitar tiga kilometer untuk melihat kondisi aktivitas vulkanik secara langsung.
“Aktivitas memang cenderung menurun, tetapi Gunung Anak Krakatau masih erupsi dan statusnya tetap Siaga. Jadi kita tetap tenang, tetapi jangan lengah,” ujar Rahmat dalam konferensi pers di Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Rabu (9/9/2026).
Berdasarkan laporan pemantauan periode 06.00–12.00 WIB, tidak tercatat erupsi pada periode tersebut. Namun, sebelumnya terjadi satu kali erupsi pada pukul 00.47 WIB dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 20,28 detik.
Pada periode pengamatan yang sama tercatat dua kali gempa laut, satu kali gempa vulkanik dangkal, dan satu kali tremor menerus.
Analisis citra satelit Himawari-9 pukul 10.00 WIB juga menunjukkan material vulkanik teridentifikasi hingga ketinggian sekitar 2,1 kilometer dan bergerak ke arah barat laut serta perairan sekitar Teluk Lampung.
Ahli Kebencanaan Itera Ikah Ning P.P. mengatakan pengamatan visual dari KRI Lepu 861 menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau terlihat lebih rendah dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Menurutnya, salah satu indikasinya adalah kolom erupsi yang secara visual lebih dominan berwarna putih dibandingkan abu.
Meski aktivitas cenderung menurun, kewaspadaan tetap diperlukan karena status gunung masih berada pada Level III.
Pemprov Lampung mengimbau masyarakat, wisatawan, dan pengguna laut tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif serta mematuhi arahan instansi berwenang.
Danlanal Lampung Letkol Laut Irianto juga meminta pengguna laut memperhatikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan mengikuti informasi resmi terkait keselamatan pelayaran.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi mengatakan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan bersama seluruh unsur terkait. Pemerintah daerah juga menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi perubahan aktivitas gunung api.
“Kami menyiapkan skenario dan memastikan pemerintah daerah siap apabila sewaktu-waktu terdapat perubahan rekomendasi dari PVMBG. Prinsipnya, masyarakat tetap tenang, tetapi pemerintah harus selalu siap,” kata Aswarodi.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Operasi tersebut telah dilakukan selama dua hari, termasuk Selasa (8/9) dan Rabu (9/9).
Menurut Aswarodi, operasi tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk membantu mengurangi konsentrasi partikel abu vulkanik di udara.
Pelaksanaannya tetap mempertimbangkan hasil pemantauan sebaran abu dan aspek keselamatan penerbangan.
Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung memperkuat kesiapsiagaan di seluruh kabupaten/kota melalui pemantauan kondisi kesehatan masyarakat, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta surveilans terhadap potensi gangguan akibat paparan abu vulkanik.
Gangguan kesehatan yang diantisipasi antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, pneumonia, iritasi mata, penyakit kulit, asma, dan gangguan paru. Ketersediaan obat serta bahan medis habis pakai di tingkat provinsi juga terus dipantau dan disebut masih memadai.
BPBD Lampung telah mendistribusikan 20.000 masker ke sejumlah daerah, termasuk Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus, Lampung Utara, Pringsewu, Bandar Lampung, dan Pesisir Barat.
Pemprov Lampung juga telah mengajukan dukungan kepada BNPB berupa 500.000 masker, 500.000 hand sanitizer, 1.000 paket peralatan kebersihan, 300 unit peralatan pemadam kebakaran, 200 unit oksigen, dan 10 unit tenda pengungsian.
Untuk kesiapsiagaan jangka panjang, pemerintah daerah memperkuat enam aspek mitigasi, yakni kesiapan jalur dan rambu evakuasi serta tempat pengungsian, pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko, sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, simulasi evakuasi, serta penataan permukiman termasuk opsi relokasi apabila diperlukan.
Aswarodi menegaskan langkah tersebut merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah dan bukan berarti masyarakat harus melakukan evakuasi saat ini.
Pemprov Lampung mengingatkan masyarakat menggunakan masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan apabila terjadi paparan abu vulkanik.
Warga yang mengalami gangguan kesehatan diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau untuk kepentingan dokumentasi maupun aktivitas lainnya dan memperoleh informasi perkembangan gunung api melalui kanal resmi pemerintah, BPBD, BMKG, PVMBG, serta instansi terkait.












