Titik Buta Air & Space Power, C6ISTAR, dan Disonansi Kognitif dalam Kebijakan Nasional
1.Ketika Efektivitas Taktis Dianggap sebagai Kebenaran Strategis
Pada 24 September 2026, Presiden Prabowo Subianto mengundang para akademisi dan pakar untuk membahas pengelolaan gambut serta penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyatakan:
“Dengan segala macam helikopter, tetap yang paling efektif adalah petugas di darat.” (Sekretariat Presiden, 2026; ANTARA, 25 September, 2026).
Pernyataan tersebut mempunyai dasar teknis. Kebakaran gambut dapat berlangsung di bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan pembasahan mendalam, pengelolaan hidrologi, dan intervensi langsung petugas.
Namun, persoalannya bukan apakah petugas darat efektif, melainkan apakah efektivitas pemadaman langsung dapat dijadikan ukuran keberhasilan seluruh sistem penanggulangan bencana.
Dalam pendekatan systems thinking, terdapat perbedaan fundamental antara memadamkan api dan mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana.
Work hard tidak sama dengan work smart.
Bekerja keras berarti mengerahkan tenaga dan sumber daya. Bekerja cerdas berarti memastikan sumber daya tersebut digunakan pada lokasi, waktu, dan sasaran yang tepat.
Keduanya diperlukan. Namun, kerja keras tanpa keunggulan informasi berisiko menghasilkan operasi yang mahal, terlambat, dan kurang efektif.
2. Paradoks Kebijakan: Helikopter Dikerahkan, tetapi Efektivitasnya Dipersempit
Pada September 2026, Jepang mengerahkan tiga helikopter angkut berat CH-47 Chinook untuk membantu penanggulangan karhutla di Kalimantan Barat.
Operasi yang dimulai pada 16 September tersebut menghasilkan 40 penerbangan dan penyaluran lebih dari 220 ton air sebelum berakhir pada 29 September 2026 (BNPB, 2026).
Ketika Presiden menyampaikan pernyataan mengenai keunggulan petugas darat, operasi udara Jepang masih berlangsung.
Apakah ini kontradiksi?
Belum tentu. Pemadaman darat dan udara mempunyai fungsi berbeda. Namun, kronologi tersebut mengundang pertanyaan mengenai konsistensi ukuran efektivitas.
Apakah keberhasilan helikopter hanya dihitung berdasarkan volume air? Bagaimana dengan kemampuannya menjangkau wilayah terpencil, memperlambat penyebaran api, melindungi permukiman, dan mendukung personel darat?
Tanpa indikator multidimensi, dua instrumen yang seharusnya saling melengkapi justru terlihat saling dipertentangkan.
3. Titik Buta Pertama: Air Power Bukan Sekadar Water Bombing
Menyamakan Air Power dengan helikopter pembawa air merupakan penyederhanaan konseptual.
Kekuatan udara mencakup pengintaian, pengamatan, mobilitas, pemetaan, komunikasi, logistik, evakuasi, dan koordinasi operasi.
Helikopter Chinook bukan sekadar alat pemadam, melainkan platform angkut berat yang mampu mendukung pengerahan personel dan perlengkapan.
Pesawat pengintai dan wahana udara tanpa awak (UAV) dapat memetakan garis api, memverifikasi ancaman, dan membantu menentukan prioritas pengerahan.












