Scroll untuk baca artikel
Opini

Karhutla Indonesia: Kerja Keras Tidak Sama dengan Kerja Cerdas

Madalin
×

Karhutla Indonesia: Kerja Keras Tidak Sama dengan Kerja Cerdas

Sebarkan artikel ini
Penanganan karhutla melalui petugas darat dan dukungan udara di kawasan hutan.
Penanganan karhutla membutuhkan koordinasi petugas darat, dukungan udara, teknologi pemantauan, dan pencegahan berbasis data. (Ilustrasi)

Pemadaman udara juga mempunyai keterbatasan, khususnya terhadap bara gambut bawah permukaan. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghapus nilai operasionalnya dalam kondisi yang sesuai.

Pertanyaan strategisnya bukan siapa yang paling keras bekerja, melainkan bagaimana seluruh kemampuan digunakan secara paling efektif.

4. Titik Buta Kedua: Space Power dan Keunggulan Penginderaan Jauh

Karhutla merupakan fenomena spasial yang dipengaruhi kondisi hidrologi, kekeringan, vegetasi, penggunaan lahan, dan aktivitas manusia.

Satelit MODIS dan VIIRS dapat mendeteksi anomali termal, sementara NASA FIRMS menyediakan informasi titik panas mendekati waktu nyata (NASA FIRMS).

Penginderaan jauh (remote sensing) juga memungkinkan pemantauan perubahan tutupan lahan, kelembapan vegetasi, dan persebaran asap.

Namun, titik panas bukan bukti otomatis kebakaran. Keterbatasan resolusi, tutupan awan, serta kebakaran bawah permukaan menuntut verifikasi melalui sensor darat, UAV, dan pengamatan langsung.

Di sinilah Space Power menjadi pengganda kemampuan.

Petugas darat tidak seharusnya dikerahkan hanya berdasarkan perkiraan ketika informasi geospasial dapat membantu menunjukkan lokasi, tingkat ancaman, dan akses terbaik.

Keunggulan informasi bukan menggantikan keberanian manusia, melainkan memastikan keberanian tersebut digunakan secara tepat.

5. Titik Buta Ketiga: Dari Sense-to-Shoot Menuju Sense-to-Suppress

Dalam doktrin operasi militer, konsep sense-to-shoot menghubungkan kemampuan mendeteksi, mengidentifikasi, mengambil keputusan, dan bertindak terhadap ancaman.

Untuk karhutla, prinsip tersebut dapat diadaptasi menjadi sense-to-suppress, tanpa unsur penggunaan persenjataan.

Rantai operasinya meliputi prediksi, pencegahan, deteksi, verifikasi, keputusan, pengerahan, pemadaman, evaluasi, dan pembelajaran.

Pendekatan C6ISTAR dapat digunakan sebagai kerangka integrasi komando, kendali, komunikasi, komputer, keamanan siber, sistem respons, intelijen, pengawasan, dan pengintaian.

Data satelit, UAV, radar cuaca, sensor hidrologi, serta laporan lapangan harus diintegrasikan menjadi Common Operational Picture, yakni gambaran situasi operasional bersama.

Dengan demikian, pengambil keputusan mengetahui ancaman mana yang harus ditangani, sumber daya apa yang diperlukan, dan kapan tindakan harus dilaksanakan.

Kecepatan pengambilan keputusan harus diimbangi ketepatan informasi dan keselamatan operasi.

6. Titik Buta Keempat: Disonansi Kognitif dalam Narasi Kebijakan

Leon Festinger (1957) memperkenalkan konsep cognitive dissonance untuk menjelaskan ketegangan ketika keyakinan, penilaian, dan tindakan tidak sepenuhnya konsisten.

Dalam kebijakan karhutla, terdapat potensi ketidaksesuaian narasi.

Di satu sisi, pemerintah memperkuat kemampuan udara dan menerima bantuan internasional. Di sisi lain, komunikasi publik menonjolkan efektivitas petugas darat.

Keduanya sebenarnya dapat berjalan konsisten karena memiliki fungsi berbeda.

Bahkan, Presiden juga meminta solusi ilmiah dan penguatan pencegahan melalui pengelolaan gambut, embung, serta kesiapan sarana sebelum kebakaran terjadi (Sekretariat Presiden, 2026).