Nusantara

Rafly Kande: Aceh sebagai Ruang Belajar Dunia

Admin
×

Rafly Kande: Aceh sebagai Ruang Belajar Dunia

Sebarkan artikel ini
Rafly Kande: Aceh sebagai Ruang Belajar Dunia
Rafly Kande: Aceh sebagai Ruang Belajar Dunia

MITRAPOL.com, Banda Aceh – Dari Aceh, dunia telah belajar banyak tentang bencana. Tragedi tsunami Aceh tidak hanya menjadi luka sejarah, tetapi juga tonggak penting lahirnya sistem penanggulangan bencana modern di berbagai negara. Pengalaman Aceh membentuk standar baru dalam mitigasi, rekonstruksi, serta manajemen risiko bencana berskala global.

Hari ini, tantangan yang dihadapi dunia telah bergeser. Krisis iklim melahirkan bencana hidrometeorologis yang semakin kompleks, seperti banjir, tanah longsor, degradasi daerah aliran sungai (DAS), hingga kerusakan lanskap secara masif. Dalam konteks ini, Aceh kembali relevan—bukan sebagai objek krisis, melainkan sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan solusi.

Aceh memiliki pengalaman empiris, keragaman lanskap, serta dinamika sosial-ekologis yang menjadikannya lokasi ideal untuk membangun, menguji, dan menyempurnakan pendekatan penanggulangan bencana lingkungan berbasis sains dan rekayasa (engineering). Di sinilah peluang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan perusahaan global menemukan relevansinya.

Jika ditarik ke belakang, Aceh bukan wilayah asing bagi inovasi global. Industri migas modern justru berakar di Aceh. Royal Dutch Shell lahir dari Perlak, sementara pada dekade 1970-an, kilang gas Arun menjadi pionir industri LNG dunia. Dari Arun pula terjadi transfer pengetahuan lintas negara, termasuk ke Qatar yang saat itu mengimpor tenaga kerja terampil dari Aceh.

Kini, transformasi Aceh memasuki babak baru. Bencana hidrometeorologis di Aceh dan Sumatra dapat dijadikan pilot project untuk merumuskan bagaimana infrastruktur dirancang, dibangun, dan dioperasikan di wilayah tropis seperti Indonesia dan Asia Tenggara. Pendekatan ini mencakup pengelolaan wilayah hulu hingga pesisir, integrasi infrastruktur keras dengan infrastruktur hijau, serta pemanfaatan teknologi adaptif terhadap perubahan iklim.

Masuknya dunia internasional ke Aceh tidak boleh dipahami sebagai bentuk intervensi, melainkan sebagai kolaborasi strategis. Aceh menyediakan pengalaman, konteks lokal, dan kompleksitas lapangan; sementara mitra global menghadirkan sains, teknologi, dan pembiayaan.

Dari Aceh, solusi dapat dirumuskan—bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga bagi Asia Tenggara dan dunia. Aceh bukan sekadar wilayah yang pernah dilanda bencana, melainkan ruang belajar global untuk membangun masa depan yang lebih tangguh terhadap krisis iklim.