MITRAPOL.com, Lebak – Puluhan warga Baduy Dalam berjalan kaki sejauh sekitar 60 kilometer dari wilayah pedalaman menuju Rangkasbitung, Jumat (24/4/2026). Perjalanan yang ditempuh hingga delapan jam itu dilakukan tanpa alas kaki sebagai bagian dari tradisi sakral Seba Baduy.
Dengan mengenakan busana putih dan ikat kepala khas, rombongan dari Kampung Beo dan Cikeusik berjalan beriringan sambil mematuhi aturan adat yang melarang penggunaan kendaraan maupun alas kaki.
Salah satu warga Baduy Dalam, Ayah Dani, mengatakan perjalanan tersebut bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan kepada pemerintah daerah yang mereka sebut sebagai “bapak gede” atau Bupati Lebak.
“Kurang dari 40 orang yang ikut dari Baduy Dalam. Kami tetap berjalan kaki sesuai aturan adat,” ujarnya saat ditemui di Terminal Aweh sebelum melanjutkan perjalanan ke Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak.
Dalam tradisi Seba, masyarakat Baduy membawa hasil bumi seperti pisang dan beras sebagai simbol bakti. Namun, Ayah Dani mengungkapkan hasil panen tahun ini mengalami penurunan akibat faktor alam.
Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi semangat warga untuk tetap menjalankan tradisi turun-temurun tersebut.
Setibanya di Rangkasbitung, rombongan Baduy Dalam akan bergabung dengan warga Baduy Luar yang diperbolehkan menggunakan transportasi. Selanjutnya, mereka bersama-sama menuju Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak untuk melaksanakan prosesi Seba.
Tradisi ini menjadi simbol ketaatan masyarakat adat terhadap leluhur sekaligus sarana komunikasi dengan pemerintah daerah, yang terus dijaga keberlangsungannya hingga kini.












