MITRAPOL.com, Banda Aceh – Sebanyak 483 karya puisi menghiasi peluncuran Buku Antologi Puisi Etnik Nusantara Adat dan Budaya Provinsi Aceh yang digelar di Aula SMA Negeri Modal Bangsa, Banda Aceh, Selasa (23/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan adat dan budaya Aceh melalui karya sastra.
Ratusan penulis dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh hadir dalam peluncuran buku yang memuat karya-karya bertema adat, budaya, dan kearifan lokal. Momentum tersebut juga diharapkan dapat mendorong para penulis lokal untuk terus mendokumentasikan kekayaan budaya daerah melalui karya sastra.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya penggagas Perkumpulan Rumah Seni Asnur (Peruas) sekaligus tokoh seni multimedia nasional, Datok Asrijal Nur, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, Syarwan Joni, M.Pd., yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Wakil Kepala Majelis Adat Aceh (MAA), Barlian AW, serta dua sastrawan senior Aceh, LK Ara dan Din Saja.
Dalam sambutannya, Datok Asrijal Nur mengajak para guru dan pegiat literasi di Aceh untuk terus berkarya dan berkontribusi dalam pelestarian budaya melalui tulisan.
Menurutnya, gerakan literasi budaya perlu diintegrasikan dengan pembangunan pusat-pusat peradaban, seperti sekolah dan masjid, sehingga upaya pendokumentasian adat dan budaya dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Dukungan terhadap gerakan literasi budaya juga disampaikan pemerintah daerah. Syarwan Joni mengapresiasi inisiatif para penulis dan pegiat literasi yang terus berupaya menjaga warisan budaya melalui penerbitan buku.
“Pemerintah sangat mendukung kegiatan seperti ini. Melalui buku, adat dan budaya yang ada di daerah-daerah, khususnya Provinsi Aceh, akan tercatat secara abadi dan terus dikenang oleh generasi mendatang,” ujar Syarwan Joni.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Aceh, Sabariah, M.Pd., menyampaikan bahwa setelah peluncuran buku, pihaknya akan membentuk struktur organisasi resmi yang terdiri atas ketua, pengawas, sekretaris, bendahara tingkat provinsi, hingga koordinator di setiap kabupaten dan kota.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keberlanjutan komunitas penulis serta memperkuat gerakan literasi budaya di Aceh.
Suasana peluncuran buku semakin semarak ketika sejumlah penulis dari berbagai daerah membacakan puisi karya mereka. Salah satu yang mendapat apresiasi peserta adalah pembacaan puisi tunggal oleh Dr. Juliana, S.Pd.I., M.Pd.
Usai kegiatan, Juliana mengaku bangga atas terselenggaranya acara yang mampu mempertemukan para penulis dari berbagai daerah di Aceh dalam semangat yang sama, yakni menjaga dan melestarikan budaya melalui sastra.
Ia berharap dukungan pemerintah terhadap gerakan literasi budaya terus diperkuat agar kegiatan serupa dapat berlangsung secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak generasi muda.












