Oleh: Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si
MITRAPOL.com, Jakarta — Setiap Agustus, kita kembali mendengar ungkapan “meneladani para pahlawan”. Kalimat itu hadir dalam pidato, spanduk, sambutan, hingga berbagai kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan. Ungkapan tersebut tentu memiliki maksud baik: mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari perjuangan para pahlawan.
Namun, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan. Apakah peringatan kemerdekaan cukup dengan mengulang ungkapan tentang keteladanan, atau sudah seharusnya nilai-nilai kepahlawanan benar-benar diwujudkan dalam perilaku sosial?
Dalam konteks itulah istilah “meneladan” menjadi menarik untuk direnungkan. Secara maknawi, meneladan dapat dipahami sebagai mengambil atau mengikuti teladan yang telah ditunjukkan oleh seseorang. Dalam hal ini, para pahlawan bukan sekadar nama yang dikenang, melainkan sumber nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan.
Persoalannya bukan semata-mata apakah istilah “meneladani” salah atau benar. Sebuah bentuk bahasa dapat menjadi lazim karena digunakan secara luas dan diterima dalam masyarakat. Akan tetapi, kelaziman sebuah istilah tidak selalu membuat kita berhenti mempertanyakan substansi yang ingin disampaikan.
Karena itu, ungkapan “Meneladan Pahlawan di Hari Kemerdekaan” dapat dimaknai lebih jauh sebagai ajakan untuk kembali kepada substansi keteladanan. Kita bukan hanya mengenang siapa mereka, tetapi belajar dari keberanian, pengorbanan, persatuan, integritas, dan pengabdian yang mereka tunjukkan.
Para pahlawan tidak hanya meninggalkan nama dalam buku sejarah. Mereka meninggalkan nilai yang jauh lebih penting. Ada keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, kesediaan berkorban demi kepentingan yang lebih besar, semangat persatuan, serta keteguhan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan, bahkan semakin penting dalam kehidupan bangsa hari ini.
Di tengah kompleksitas kehidupan sosial, kita masih berhadapan dengan berbagai persoalan yang menguji integritas. Kepentingan pribadi dan kelompok terkadang lebih menonjol daripada kepentingan publik. Kejujuran berhadapan dengan pragmatisme. Integritas diuji oleh kepentingan sesaat. Sementara itu, semangat persatuan dapat tergerus oleh fanatisme, polarisasi, maupun kepentingan sektoral.
Di sinilah makna meneladan menjadi penting.
Meneladan pahlawan bukan berarti mengagungkan masa lalu tanpa melakukan refleksi terhadap keadaan hari ini. Meneladan berarti mengambil nilai perjuangan mereka dan menerjemahkannya sesuai dengan tantangan zaman.
Jika para pahlawan dahulu berjuang mempertahankan dan merebut kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga, maka perjuangan generasi sekarang adalah mengisi kemerdekaan dengan kerja keras, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, persatuan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Perjuangan hari ini mungkin tidak selalu berlangsung di medan perang. Ia dapat berlangsung di ruang kelas, kantor pemerintahan, institusi penegak hukum, dunia usaha, lingkungan masyarakat, hingga ruang digital. Setiap orang memiliki ruang untuk menunjukkan keberanian, integritas, dan tanggung jawabnya.
Karena itu, peringatan Hari Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Siapa pahlawan kita?” Pertanyaan tersebut perlu dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih reflektif: “Apakah perilaku kita hari ini masih mencerminkan nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan para pahlawan?”
Pertanyaan itu penting karena penghormatan kepada pahlawan tidak cukup diwujudkan melalui upacara, tabur bunga, pemasangan spanduk, atau pidato seremonial. Semua itu penting sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan. Namun, penghormatan yang paling substansial adalah ketika nilai perjuangan mereka hidup dalam tindakan kita sehari-hari.
Jangan sampai keteladanan para pahlawan hanya menjadi bahasa yang indah setiap bulan Agustus, kemudian kehilangan maknanya setelah seluruh rangkaian seremoni berakhir.
Keteladanan harus menjadi etika kehidupan sehari-hari.
Menjadi jujur ketika tidak ada yang mengawasi. Tetap memegang prinsip ketika berhadapan dengan kepentingan. Bersedia mengutamakan kepentingan umum ketika kepentingan pribadi lebih menguntungkan. Menghormati perbedaan ketika perbedaan mudah dipertentangkan. Serta menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap-sikap sederhana tersebut sesungguhnya merupakan bentuk nyata mengisi kemerdekaan.
Kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan bukanlah sesuatu yang selesai pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan harus terus diisi, dijaga, dan dimaknai melalui tindakan setiap generasi.
Karena itu, ukuran penghormatan kepada pahlawan bukan semata-mata seberapa sering kita menyebut nama mereka, melainkan seberapa jauh nilai perjuangan mereka hadir dalam kehidupan kita.
Pada Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia ini, barangkali kita tidak cukup hanya berkata, “Mari meneladan para pahlawan.” Lebih penting daripada itu adalah memastikan bahwa dalam diri kita masih terdapat keberanian untuk berlaku jujur, kesediaan untuk berkorban, keteguhan memegang prinsip, serta keberpihakan kepada kepentingan bangsa dan masyarakat.
Bukan kepentingan “kamu”, “saya”, atau “mereka”, melainkan kepentingan bersama sebagai satu bangsa.
Kemerdekaan diwariskan oleh para pahlawan melalui perjuangan. Menjaga dan mengisi makna kemerdekaan adalah tanggung jawab kita melalui keteladanan.
Jangan biarkan keteladanan pahlawan hanya hidup dalam pidato peringatan kemerdekaan. Biarkan ia hidup dalam perilaku.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.












