MITRAPOL.com, Jakarta – Sejumlah kebijakan dan pernyataan yang pernah disampaikan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, kembali menjadi perhatian publik setelah namanya dikaitkan dengan proses hukum yang sedang berlangsung.
Selama memimpin BGN sejak dilantik pada Agustus 2024, Dadan dikenal sebagai sosok akademisi yang aktif menyampaikan berbagai gagasan terkait pemenuhan gizi nasional melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, beberapa kebijakan dan pernyataannya sempat memicu perdebatan di tengah masyarakat.
Berikut sejumlah kebijakan dan polemik yang pernah menjadi sorotan publik selama masa kepemimpinannya di BGN.
1. Pernyataan Konsumsi Susu Dua Liter per Hari
Pada Mei 2025, Dadan sempat menjadi perbincangan setelah menceritakan pengalaman pribadinya mengonsumsi susu hingga dua liter setiap hari saat menghadiri kegiatan di Bangkalan, Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengaitkan pola konsumsi susu dengan pertumbuhan tinggi badan anak-anaknya. Pernyataan itu memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat karena dianggap sulit diterapkan oleh sebagian kalangan yang memiliki keterbatasan akses terhadap pangan bergizi.
Belakangan, Dadan menjelaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan pengalaman pribadi dan bukan bagian dari rekomendasi resmi pemerintah.
2. Wacana Pemanfaatan Serangga dan Ulat Sagu
Dalam beberapa kesempatan, Dadan pernah menyampaikan pentingnya diversifikasi sumber protein lokal untuk mendukung program gizi nasional.
Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein. Meski secara ilmiah dinilai memiliki kandungan gizi yang baik, usulan tersebut menuai beragam respons karena dinilai belum sesuai dengan kebiasaan konsumsi masyarakat di banyak daerah.
3. Rencana Pengadaan Motor Listrik
BGN di bawah kepemimpinan Dadan juga sempat menjadi sorotan terkait rencana pengadaan motor listrik untuk mendukung operasional satuan pelayanan pemenuhan gizi di berbagai daerah.
Program tersebut memunculkan diskusi publik mengenai urgensi, efektivitas, serta besaran anggaran yang diperlukan. Sejumlah pihak meminta pemerintah memastikan setiap pengadaan dilakukan secara transparan dan sesuai kebutuhan program.
4. Pengadaan Perlengkapan Operasional
Perhatian publik juga sempat tertuju pada sejumlah rencana pengadaan barang operasional di lingkungan BGN.
Beberapa kalangan mempertanyakan relevansi sejumlah barang yang masuk dalam daftar pengadaan dengan program utama pemenuhan gizi masyarakat. Perdebatan tersebut mendorong munculnya tuntutan agar seluruh proses pengadaan dilakukan secara akuntabel dan terbuka.
5. Insiden Keracunan dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis juga menghadapi tantangan berupa sejumlah kasus dugaan keracunan makanan di berbagai daerah.
Peristiwa tersebut memicu evaluasi terhadap standar keamanan pangan, pengawasan distribusi makanan, serta penerapan prosedur higienitas di dapur penyedia makanan program MBG.
Pemerintah saat itu menyatakan akan melakukan perbaikan sistem untuk meminimalkan risiko kejadian serupa.
6. Wacana Perluasan Program MBG ke Luar Negeri
Menjelang akhir masa jabatannya, Dadan sempat menyampaikan gagasan mengenai kemungkinan perluasan manfaat program MBG bagi anak-anak warga negara Indonesia yang berada di luar negeri, termasuk keluarga pekerja migran Indonesia.
Gagasan tersebut menuai beragam tanggapan. Sebagian pihak menilai ide tersebut menarik sebagai bentuk perlindungan negara terhadap warga negara di luar negeri, sementara pihak lain berpendapat fokus program sebaiknya tetap diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri.
Berbagai kebijakan, pernyataan, dan program yang pernah dijalankan selama kepemimpinan Dadan Hindayana kini kembali menjadi perhatian publik seiring perkembangan proses hukum yang sedang berlangsung.
Hingga saat ini, publik masih menunggu perkembangan resmi dari aparat penegak hukum terkait perkara yang sedang ditangani, sekaligus menantikan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Program Makan Bergizi Gratis agar tujuan peningkatan kualitas gizi masyarakat dapat berjalan secara optimal.












