MITRAPOL.com, Manggarai Timur — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menindaklanjuti hasil asesmen terhadap sejumlah rumah ibadah yang terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penanganan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan dengan mengutamakan keselamatan pengguna serta tetap mempertahankan kearifan lokal.
Salah satu tindak lanjut dilakukan di Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus, Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Senin (31/8/2026).
Jemaat mulai melakukan pembongkaran dan pembersihan bangunan gereja serta aula setelah hasil pemeriksaan menyatakan kedua bangunan tersebut mengalami kerusakan struktural dan tidak aman digunakan.
Sebelumnya, Menteri PU Dody Hanggodo meninjau Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek serta Masjid Nurul Huda Reo, Kabupaten Manggarai, pada Jumat (28/8/2026).
Dody menegaskan bahwa pembangunan kembali fasilitas yang rusak harus tetap memperhatikan karakter dan kearifan lokal masyarakat.
“Kalau bangunan kita kerjakan ulang, di manapun kearifan lokal harus dijaga. Jadi harus koordinasi dengan yang menggunakan atau mengelola bangunan tersebut,” kata Dody.
Hasil asesmen terhadap tiga massa bangunan Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek menunjukkan gedung peribadatan dan aula mengalami kerusakan struktural sehingga dinyatakan tidak aman digunakan.
Sementara itu, rumah pastoran tidak mengalami kerusakan dan dinyatakan masih aman untuk digunakan.
Dalam proses pembongkaran, pihak gereja terlebih dahulu mengamankan aset-aset yang berada di dalam bangunan.
Sekitar 30 jemaat terlibat dalam kegiatan tersebut dengan dukungan sekitar 20 personel Polda NTT untuk membantu keamanan dan kelancaran proses di lapangan.
Pembongkaran dan pembersihan juga disertai proses adat atau Cear Di’a sebagai bagian dari penghormatan terhadap nilai adat dan kearifan lokal masyarakat Dampek.
Selanjutnya, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) NTT menyiapkan penanganan gereja dengan pendekatan rancang bangun.
Sebelum pembangunan kembali dilakukan, kondisi struktur bangunan eksisting akan dikaji lebih lanjut.
Pengurus gereja juga akan dilibatkan dalam proses perencanaan agar bangunan baru dapat memenuhi kebutuhan jemaat sekaligus mempertahankan karakter lokal.
Sementara itu, hasil asesmen terhadap Masjid Nurul Huda Reo menunjukkan struktur utama bangunan masih berdiri. Namun, sejumlah elemen struktur dan nonstruktur mengalami kerusakan.
Kerusakan yang teridentifikasi antara lain pada kolom level IV sekitar 4,67 persen, kolom level III sekitar 3,125 persen, plafon sekitar 60 persen, serta dinding sekitar 10 persen.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, bangunan utama Masjid Nurul Huda Reo dikategorikan rusak sedang.
Penanganan yang direkomendasikan meliputi pembongkaran seluruh plafon, pembongkaran bagian dinding yang mengalami retak lebih dari 6 milimeter, serta perkuatan struktur bangunan.
Berbeda dengan bangunan utama, menara Masjid Nurul Huda Reo mengalami kerusakan berat dan sebagian telah runtuh. Karena itu, menara direkomendasikan untuk dibongkar total.
Kementerian PU memastikan penanganan terhadap kedua rumah ibadah tersebut dilakukan berdasarkan hasil asesmen dan tingkat kerusakan masing-masing bangunan.
Pendekatan itu diperlukan agar rehabilitasi maupun pembangunan kembali dapat dilakukan secara aman dan tepat sasaran.
Selain dua rumah ibadah tersebut, Kementerian PU melalui unit pelaksana teknis terkait terus melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap fasilitas publik yang terdampak gempa di wilayah Flores.
Hasil asesmen menjadi dasar untuk menentukan apakah sebuah bangunan masih dapat digunakan, membutuhkan rehabilitasi dan perkuatan, atau harus dibangun kembali.
Dalam penanganannya, Kementerian PU menerapkan prinsip build back better, yakni membangun kembali dengan standar keselamatan dan ketahanan yang lebih baik terhadap potensi bencana, dengan tetap memperhatikan karakter lokal serta kebutuhan masyarakat pengguna fasilitas.












