MITRAPOL.com, Tangerang Selatan – Upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Jakarta Raya terus didorong melalui pendekatan kolaboratif lintas komunitas, khususnya di kalangan pelajar dan generasi muda.
Di tengah meningkatnya kasus tawuran dan perundungan remaja, ruang-ruang dialog antar pelajar mulai dibangun untuk memperkuat kebersamaan. Para pelajar dan generasi Z (Gen Z) yang sebelumnya tidak saling mengenal kini duduk bersama, berdiskusi, dan menyatakan komitmen menjaga lingkungan pendidikan tetap aman dan kondusif.
Ketua Tangsel Bersatu, Muhammad Aprilyandi, menegaskan bahwa fenomena tawuran dan perundungan harus ditangani secara serius dengan memahami akar permasalahan yang melatarbelakanginya.
Menurutnya, faktor lingkungan, keluarga, hingga pengaruh media sosial menjadi pemicu yang tidak bisa diabaikan. Remaja yang berada dalam fase pencarian jati diri cenderung rentan terhadap tekanan sosial dan emosi yang belum stabil.
Oleh karena itu, peran orang tua, sekolah, dan masyarakat dinilai sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, serta menanamkan nilai empati, toleransi, dan penyelesaian konflik secara damai.
Aprilyandi menyebut berbagai kegiatan positif seperti turnamen e-sport (Mobile Legends), futsal, hingga aksi damai pelajar sebagai langkah konkret untuk mengalihkan energi remaja ke arah yang lebih konstruktif.
Kegiatan tersebut dinilai mampu menumbuhkan sportivitas, solidaritas, serta semangat kebersamaan di kalangan generasi muda.
“Mengimbau saja tidak cukup. Harus ada aksi konkret dan solusi bersama,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa isu stop bullying, pelecehan, dan tawuran merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama, termasuk dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.
Sinergi antara pemerintah, kepolisian, institusi pendidikan, serta masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi generasi muda.
Aprilyandi berharap, kegiatan berbasis komunitas ini dapat menjadi contoh (role model) bagi daerah lain dalam membangun solidaritas dan budaya positif di kalangan remaja.
Menurutnya, inisiatif sederhana yang dimulai dari ruang publik dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas dalam membangun budaya saling menghargai, kepedulian, dan kolaborasi berkelanjutan.












