MITRAPOL.com, Jakarta – Dinamika politik di Aceh yang kian memanas mendapat sorotan dari tokoh Aceh di Jakarta, Suryadi Djamil. Ia menekankan pentingnya soliditas antara eksekutif dan legislatif guna menjaga stabilitas pemerintahan serta memastikan kebijakan tetap berpihak kepada masyarakat.
Menurut Suryadi, konflik terbuka yang terus mencuat ke ruang publik berpotensi merusak citra daerah dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan.
“Jangan sampai ruang publik dipenuhi drama politik yang tidak substansial. Ini bukan tontonan yang mendidik, apalagi memberi solusi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti maraknya tudingan tanpa disertai data dan bukti yang kuat. Menurutnya, praktik tersebut tidak hanya kontraproduktif, tetapi juga mencederai prinsip transparansi dan akuntabilitas pejabat publik.
“Jika ada dugaan pelanggaran, sampaikan secara terbuka, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukan sekadar pernyataan yang memicu spekulasi,” ujarnya.
Suryadi mengajak seluruh elemen pemerintahan di Aceh untuk kembali mengedepankan nilai musyawarah serta kearifan lokal dalam menyelesaikan perbedaan. Ia menilai dialog terbuka dan komunikasi yang sehat merupakan langkah efektif untuk meredam konflik politik.
Ia juga menyampaikan keyakinannya terhadap kepemimpinan Muzakir Manaf yang dinilai memiliki kapasitas dalam menjaga stabilitas dan mengambil keputusan strategis. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya transparansi dalam setiap kebijakan guna menghindari kesalahpahaman publik.
“Kepercayaan publik adalah modal utama. Karena itu, keterbukaan informasi harus menjadi prioritas,” tambahnya.
Selain itu, Suryadi meminta pimpinan legislatif, khususnya Ketua DPRA, untuk lebih mengedepankan kedewasaan dalam berkomunikasi serta menyampaikan pernyataan berbasis data dan fakta.
Ia juga mengusulkan perlunya penyegaran kepemimpinan di parlemen daerah sebagai bagian dari upaya jangka panjang menciptakan iklim politik yang sehat dan produktif.
Beberapa figur yang dinilai memiliki kapasitas tersebut antara lain Salmawati, Aiyub Abbas, dan Anwar. Ketiganya disebut memiliki pengalaman, integritas, serta keteladanan dalam kepemimpinan.
Menutup pernyataannya, Suryadi menegaskan bahwa masyarakat Aceh membutuhkan kerja nyata, bukan konflik berkepanjangan.
“Sudah saatnya energi difokuskan pada pembangunan dan kesejahteraan rakyat, bukan polemik yang tak berujung,” pungkasnya.












