MITRAPOL.com, Banda Aceh – Mahasiswa Samadua bersama Rafly Kande menggelar diskusi publik yang membahas sejumlah persoalan sosial strategis, mulai dari maraknya judi online, peredaran narkoba, transparansi beasiswa, hingga isu lingkungan hidup.
Kegiatan berlangsung pada Sabtu malam (10/5/2026) hingga Minggu dini hari di Wahana Jeda Ruang Bicara.
Forum diskusi yang diikuti mahasiswa asal Samadua ini menjadi ruang bertukar gagasan dan menyampaikan aspirasi terkait berbagai persoalan yang dinilai semakin mengkhawatirkan di tengah masyarakat.
Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah maraknya judi online yang dinilai telah menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan pemuda dan orang dewasa.
Peserta diskusi menilai praktik judi online tidak hanya berdampak pada menurunnya produktivitas, tetapi juga memicu ketidakstabilan ekonomi keluarga, gangguan emosional, hingga konflik rumah tangga.
Selain itu, persoalan peredaran narkoba di wilayah Samadua juga menjadi perhatian serius. Mahasiswa menilai ancaman narkoba dapat merusak generasi muda secara sistematis jika tidak ditangani secara serius.
Mereka menekankan pentingnya langkah preventif melalui edukasi, pengawasan lingkungan, serta penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam mencegah penyalahgunaan narkotika.
Di sektor pendidikan, mahasiswa menyoroti perlunya sistem beasiswa yang transparan, adil, dan bebas diskriminasi.
Peserta menilai masih terdapat dugaan ketimpangan akses beasiswa akibat kedekatan dengan pihak tertentu, yang dinilai merugikan mahasiswa berprestasi dari kalangan kurang mampu.
Karena itu, mahasiswa berharap DPRK Aceh Selatan dan DPRA dapat memperjuangkan persoalan tersebut hingga ke level kebijakan serta membuka ruang dialog resmi dengan mahasiswa.
Diskusi juga menyoroti potensi besar Samadua dalam sektor pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan pariwisata yang dinilai belum dikelola secara optimal.
Mahasiswa menilai pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi menjadi kunci dalam mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Tak hanya itu, persoalan sampah rumah tangga yang mencemari sungai juga menjadi perhatian penting. Mahasiswa menilai pencemaran tersebut telah berdampak pada kerusakan ekosistem, berkurangnya populasi ikan, hingga pendangkalan sungai.
Ancaman mikroplastik yang berpotensi masuk ke tubuh manusia dan mengganggu kesehatan jangka panjang turut menjadi sorotan dalam forum tersebut.
Untuk itu, mahasiswa mendorong penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis gampong sebagai solusi konkret yang harus segera diwujudkan.
Dalam diskusi tersebut, mahasiswa juga diajak untuk terus meningkatkan kapasitas diri, berani mencoba hal baru, serta tidak takut gagal.
Kreativitas, inovasi, dan penguasaan ilmu pengetahuan dinilai menjadi modal utama generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan.
Sebagai tindak lanjut, usai pelaksanaan MUBES IMPS dan terbentuknya kepengurusan baru, mahasiswa berencana melaksanakan Gerakan Peduli Lingkungan bersama berbagai pemangku kepentingan di kawasan pesisir sebagai bentuk aksi nyata menjaga lingkungan.
Diskusi ini diharapkan menjadi masukan strategis bagi para pemangku kebijakan dalam merumuskan pembangunan yang lebih inklusif, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat Samadua ke depan.












