Scroll untuk baca artikel
Jakarta

Hari Pramuka ke-65, Susilo Teguh Raharjo: Kepramukaan Bukan Sekadar Seragam tetapi Pendidikan Karakter

Admin
×

Hari Pramuka ke-65, Susilo Teguh Raharjo: Kepramukaan Bukan Sekadar Seragam tetapi Pendidikan Karakter

Sebarkan artikel ini
Hari Pramuka ke-65, Susilo Teguh Raharjo: Kepramukaan Bukan Sekadar Seragam tetapi Pendidikan Karakter
Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si.

MITRAPOL.com, Jakarta – Peringatan Hari Pramuka ke-65 pada 14 Agustus 2026 hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, upacara, seragam, perkemahan, maupun berbagai atribut kepramukaan. Lebih dari itu, momentum tersebut perlu menjadi refleksi terhadap sejauh mana nilai-nilai Pramuka mampu membentuk karakter generasi muda di tengah perubahan zaman.

Pandangan tersebut disampaikan Irjen Pol. Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si., Kepala Satuan Tugas Pusat Studi Kepolisian, Dosen Kepolisian Utama STIK-PTIK Lemdiklat Polri, Ketua Ikatan Alumni Sekolah Pascasarjana (SPs) UNNES, sekaligus Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Sadar Seni, Budaya dan Pariwisata, di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Menurut Susilo, Gerakan Pramuka memiliki landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Kepramukaan merupakan bagian dari pendidikan yang diarahkan untuk membentuk pribadi beriman, berakhlak, patriotik, disiplin, taat hukum, memiliki kecakapan hidup serta mampu menjadi kader bangsa.

Namun, ia menilai keberhasilan Gerakan Pramuka tidak semestinya diukur hanya dari banyaknya kegiatan atau jumlah peserta.

“Pramuka bukan tentang seragam. Bukan tentang tepuk Pramuka dan tepuk tangan. Bukan tentang baris-berbaris, tali-temali, atau sekadar berkemah.”

Susilo menekankan bahwa substansi utama kepramukaan adalah proses pendidikan karakter. Nilai seperti kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian, kesederhanaan dan pengabdian harus menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.

Tantangan generasi muda saat ini, kata dia, juga semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, media sosial, kecerdasan buatan, derasnya arus informasi, serta perubahan sosial menuntut Gerakan Pramuka beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.

“Pramuka masa depan tidak cukup hanya menjadi scout in the forest, tetapi juga harus mampu hadir sebagai scout in the digital society,” ujarnya.

Menurut Susilo, nilai-nilai kepramukaan harus diterjemahkan ke dalam kehidupan generasi digital. Kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian dan kemampuan bekerja sama harus tetap menjadi karakter utama, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital.

“Pramuka tidak cukup hanya menjadi memory of the past, tetapi harus menjadi energy for the future.”

Susilo mengingatkan agar upaya mempertahankan tradisi kepramukaan tidak membuat substansi pendidikan justru kehilangan relevansi.

Ia mendorong pembina, pendidik, orang tua, pengelola Gerakan Pramuka, alumni dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama melakukan evaluasi terhadap proses pendidikan karakter yang berlangsung di lingkungan kepramukaan.

“Jangan sampai kita sibuk menjaga seragam dan seremoninya, tetapi kehilangan jiwanya. Jangan sampai kita mempertahankan ritualnya, tetapi melupakan nilai pendidikannya.”

Menurutnya, semangat Pramuka justru terlihat dalam tindakan nyata. Misalnya, tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbohong, membantu orang lain ketika tidak ada yang mengawasi, mampu bekerja sama ketika egoisme muncul, serta bersedia mengabdi tanpa mengharapkan penghargaan.

Selain pendidikan karakter, Susilo melihat Gerakan Pramuka memiliki posisi strategis dalam membentuk kepemimpinan generasi muda untuk menghadapi Indonesia Emas 2045.

Berbagai kegiatan kepramukaan dapat menjadi laboratorium kepemimpinan. Perkemahan, misalnya, bukan sekadar aktivitas di alam terbuka, melainkan ruang untuk belajar membagi tugas, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, bermusyawarah, mengevaluasi kegiatan dan membangun empati.

Ketika menghadapi persoalan, anggota belajar mengambil keputusan. Ketika terjadi perbedaan pendapat, mereka belajar bermusyawarah. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, mereka belajar melakukan evaluasi dan perbaikan.

Dari proses tersebut, kepramukaan diharapkan mampu membentuk pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi mampu bekerja; tidak sekadar mengejar kekuasaan, tetapi memahami tanggung jawab; serta tidak hanya mencari pengakuan, tetapi memberikan manfaat.

Secara historis, 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka karena pada 14 Agustus 1961 Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat dan Panji Gerakan Pramuka dianugerahkan.

Karena itu, Susilo memandang peringatan Hari Pramuka ke-65 pada 2026 sebagai momentum untuk menghidupkan kembali semangat pendidikan, karakter, kepemimpinan dan pengabdian.

“Jika api itu masih ada, mari kita besarkan. Jika mulai redup, mari kita terangkan. Dan jika hampir padam, mari kita gelorakan.”

Pada akhirnya, menurut Susilo, Gerakan Pramuka akan tetap relevan apabila nilai-nilai yang diajarkan mampu menjawab tantangan zaman dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Bangsa yang besar, katanya, membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, mandiri, peduli, berani dan bertanggung jawab.

Di situlah api kepramukaan menemukan kembali maknanya sebagai bagian dari proses membangun kader dan calon pemimpin bangsa.