Scroll untuk baca artikel
Jakarta

FWK Soroti Pembinaan Atlet Indonesia di Asian Games 2026, Bukan Sekadar Bonus

Admin
×

FWK Soroti Pembinaan Atlet Indonesia di Asian Games 2026, Bukan Sekadar Bonus

Sebarkan artikel ini
FWK Soroti Pembinaan Atlet Indonesia di Asian Games 2026, Bukan Sekadar Bonus
Diskusi Kebangsaan FWK di Jakarta, Rabu (23/9/2026)

MITRAPOL.com, Jakarta – Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) memberikan dukungan kepada kontingen Indonesia yang berlaga di Asian Games Aichi-Nagoya 2026, FWK juga menyoroti pentingnya pembinaan atlet secara berkelanjutan, bukan hanya pemberian bonus setelah meraih prestasi.

Sorotan tersebut disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan FWK di Jakarta, Rabu (23/9/2026), sehari sebelum tim bulu tangkis beregu putra Indonesia menghadapi China pada partai final Asian Games 2026.

Tim Indonesia melaju ke final setelah mengalahkan Thailand dengan skor 3-1 pada semi final, pertandingan final Indonesia melawan China sendiri dijadwalkan akan berlangsung pada Kamis (24/9).

Mantan Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun, mengatakan perhatian pemerintah terhadap atlet sebaiknya tidak berhenti pada pemberian bonus.

Menurut dia, sistem pembinaan jangka panjang perlu menjadi bagian penting dari kebijakan olahraga nasional.

“Bonus Rp3 miliar terbilang kecil, kalau perlu dipertimbangkan sampai Rp10 miliar. Ini akan lebih menyemangati setiap atlet berjuang habis-habisan di arena pertandingan,” ujar Hendry dalam diskusi tersebut.

Pemerintah sebelumnya mengumumkan bonus Rp3 miliar bagi atlet peraih medali emas Asian Games 2026.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menjelaskan bahwa angka tersebut ditujukan bagi peraih emas kategori perorangan, sementara besaran bonus untuk peraih emas kategori beregu masih dalam kajian.

Diskusi FWK kali ini diawali dengan menyaksikan pertandingan semifinal bulu tangkis beregu putra Indonesia melawan Thailand.

Sejumlah peserta diskusi yang merupakan wartawan senior olahraga turut memberikan perhatian terhadap perkembangan pembinaan olahraga nasional.

Hendry Ch Bangun, yang pernah menjadi wartawan olahraga Harian Kompas dan meliput berbagai kejuaraan bulu tangkis internasional, mengatakan pembinaan atlet membutuhkan kesinambungan program dan pendanaan.

“Diskusi ini untuk menyampaikan keprihatinan kita terhadap perkembangan pembinaan olahraga di Tanah Air, terutama untuk cabang olahraga bergengsi yang dipertandingkan dalam Olimpiade dan Asian Games,” ujarnya.

Mantan wartawan senior Kompas, Jimmy S. Harianto, juga mengingatkan pengalaman sejumlah tokoh olahraga yang menurutnya memiliki perhatian terhadap pembinaan atlet, antara lain MF Siregar dan Bob Hasan.

Peserta diskusi menilai keberhasilan olahraga tidak dapat dibangun secara instan menjelang pelaksanaan Asian Games atau Olimpiade.

Pembinaan atlet, menurut mereka, perlu dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan.

Hendry juga menyoroti pentingnya dukungan pendanaan jangka panjang bagi pembinaan atlet.

Ia mengapresiasi upaya Ketua Umum PASI Luhut Binsar Pandjaitan yang disebut mendorong program pelatihan nasional atletik jangka panjang dengan pendanaan multiyears.

Menurut Hendry, pembinaan atlet hingga mampu bersaing di tingkat Asia dan dunia membutuhkan waktu bertahun-tahun.

“Jika kemampuan anggaran pemerintah terbatas, coba libatkan masyarakat, kolaborasi dengan dunia usaha. Presiden Prabowo perlu turun tangan merangkul tokoh-tokoh masyarakat dan dunia usaha untuk ikut membina olahraga,” katanya.

Ia juga menyebut model pelibatan masyarakat dan dunia usaha pernah diterapkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pernyataan tersebut merupakan pandangan Hendry dalam diskusi FWK.

Selain Hendry dan Jimmy S. Harianto, diskusi diikuti sejumlah peserta, antara lain wartawan senior Kantor Berita Antara AR Loebis, Dr. Budi Nugraha, Sigit Setiyono, Sarwani, Herwan Pebriansyah, dan Herry Sinamarata.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melepas kontingen Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Istana Negara pada 9 September 2026.

Saat itu pemerintah menyebut kontingen yang diberangkatkan terdiri atas atlet dari 35 cabang olahraga. Data awal menyebut 432 atlet, sementara jumlah yang kemudian difinalisasi melalui proses registrasi dilaporkan menjadi 430 atlet.

FWK menilai pemberian penghargaan kepada atlet tetap penting, tetapi pembinaan jangka panjang, kesinambungan program pelatihan, pendanaan, serta dukungan terhadap kesejahteraan dan karier atlet juga perlu menjadi perhatian dalam pembangunan olahraga nasional.