Scroll untuk baca artikel
Jakarta

Maulid Nabi di Pejagalan Jakarta Utara, Tradisi Berebut Telur dan Uang Jadi Puncak Perayaan

Admin
×

Maulid Nabi di Pejagalan Jakarta Utara, Tradisi Berebut Telur dan Uang Jadi Puncak Perayaan

Sebarkan artikel ini
Maulid Nabi di Pejagalan Jakarta Utara, Tradisi Berebut Telur dan Uang Jadi Puncak Perayaan
Tradisi Berebut Telur dan Uang Dalam Puncak Perayaan Maulid Nabi di di Musholla Al-Ikhlas, Jalan Inspeksi Kali Duri, Air Baja, RT 06/RW 016, Pejagalan, Jakarta Utara, Sabtu (5/9/2026)

MITRAPOL.com, Jakarta – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Al-Ikhlas, Jalan Inspeksi Kali Duri, Air Baja, RT 06/RW 016, Pejagalan, Jakarta Utara, berlangsung meriah.

Selain rangkaian ibadah, dalam acara ini warga juga mempertahankan tradisi berebut telur hias dan uang yang menjadi puncak kemeriahan acara.

Rangkaian perayaan pada Sabtu (5/9/2026) diawali dengan lantunan shalawat, pembacaan Maulid Nabi, serta tausiah.

Setelah kegiatan keagamaan selesai, suasana berubah riuh ketika warga, terutama anak-anak, berkumpul di sekitar pohon-pohon dekorasi yang dihiasi telur dan sejumlah lembar uang.

Begitu tradisi dimulai, warga antusias berebut telur hias dan uang yang dipasang pada dekorasi. Sorak dan tawa pun mewarnai lingkungan permukiman tersebut.

Bagi masyarakat setempat, tradisi itu bukan hanya menjadi sekadar hiburan, namun kegiatan tersebut menjadi bagian dari kemeriahan Maulid Nabi sekaligus sarana mempererat hubungan warga dan mempertahankan tradisi yang dibawa dari daerah asal.

Tokoh masyarakat sekaligus pengurus organisasi masyarakat Laskar Merah Putih, Jamaluddin atau Daeng Jamal, menyebutkan pelaksanaan Maulid Nabi di lingkungan tersebut memiliki keunikan karena memadukan tradisi dengan keberagaman warga.

“Yang pasti, ini kegiatan peringatan Maulid Nabi yang sangat unik. Acara maulid ini dihiasi dengan berbagai macam kolaborasi,” ujar Daeng Jamal.

Menurutnya, tradisi Mandar dari Sulawesi Barat cukup dominan dalam kegiatan tersebut. Namun, warga yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang, antara lain Jawa, Sunda, Sumatera, dan daerah lainnya.

“Ada Jawa, Sunda, Sumatera, dan lainnya. Kolaborasi ini menjadi unik dan lain daripada yang lain,” katanya.

Daeng Jamal menilai keberagaman warga justru menjadi kekuatan dalam menjaga kebersamaan.

Menurutnya, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus merawat persatuan masyarakat di tanah rantau.

“Saya rasa kegiatan maulid ini bukan hanya sekadar memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW, tetapi membangkitkan kembali semangat yang bisa mempererat persaudaraan dan rasa persatuan kita sesama anak bangsa,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga adat dan tradisi daerah asal meski masyarakat telah lama tinggal di perantauan.

“Sehebat apa pun kita di tanah rantau, sesukses apa pun kita di tanah rantau, tetap ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu adat istiadat dan tradisi di tanah kelahiran kita,” ujarnya.

Menurut Daeng Jamal, kemeriahan kegiatan tersebut juga tidak lepas dari semangat gotong royong warga.

Mereka secara sukarela mengumpulkan biaya sekaligus menyumbangkan tenaga dan waktu untuk mempersiapkan acara.

“Saya lihat luar biasa. Mereka berurunan, berpatungan. Bukan soal finansial saja yang mereka korbankan, tetapi juga tenaga, pikiran, dan waktu,” katanya.

Sebelum tradisi perebutan telur dimulai, jamaah mengikuti tausiah yang disampaikan Ustaz Aris Kurniawan Al-Ghifari.

Dalam ceramahnya, Ustaz Aris mengajak jamaah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, terutama dalam akhlak dan kehidupan sehari-hari.

“Jangan pernah takut untuk mencontoh Nabi. Ambillah akhlakul karimah Nabi,” ujar Ustaz Aris.

Ceramah berlangsung interaktif. Ustaz Aris mengajak jamaah menjawab sejumlah pertanyaan seputar kehidupan Rasulullah SAW dan menyiapkan hadiah bagi jamaah yang mampu menjawabnya.

Setelah tausiah dan rangkaian ibadah selesai, warga mulai berkumpul di sekitar pohon dekorasi. Telur hias yang digantung menjadi daya tarik utama, terutama bagi anak-anak.

Daeng Jamal mengatakan tradisi perebutan telur merupakan salah satu bagian yang paling ditunggu dalam perayaan tersebut.

“Yang menjadi akhir dari cerita dan keunikan acara maulid ini adalah sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu, yaitu perebutan telur,” katanya.

Ia mengaku tradisi tersebut mengingatkannya pada masa kecil di kampung halaman ketika masyarakat juga melakukan kegiatan serupa.

“Saya juga pernah merasakan ketika masih kecil, berebut telur, cucur, ketupat, dan lain sebagainya,” kenangnya.

Selain telur, sejumlah uang dengan nominal beragam juga dipasang pada dekorasi dan menjadi bagian dari tradisi.

Bagi warga, nilai uang tersebut bukanlah tujuan utama, melainkan unsur yang menambah kemeriahan kegiatan.

Daeng Jamal bersyukur seluruh rangkaian acara berlangsung aman dan terkendali.

“Walaupun terkadang agak sedikit mengerikan karena ada bambu-bambunya, alhamdulillah di sini aman dan masih bisa terkendali,” ujarnya.

Perayaan Maulid Nabi di Musholla Al-Ikhlas akhirnya menjadi perpaduan antara kegiatan keagamaan, pelestarian tradisi, dan kebersamaan warga.

Di tengah keberagaman masyarakat Pejagalan, tradisi tersebut menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, mempererat persaudaraan, sekaligus mengenalkan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat setempat, di antaranya Ketua RT 06 Amsar, Muhammad Sanika atau Abang Akom, serta tokoh masyarakat lainnya.