Nusantara

Pendangkalan Sungai Picu Banjir Berulang di Bojongsoang Bandung, Warga Soroti Dampak Pengembangan Kawasan

Admin
×

Pendangkalan Sungai Picu Banjir Berulang di Bojongsoang Bandung, Warga Soroti Dampak Pengembangan Kawasan

Sebarkan artikel ini
Pendangkalan Sungai Picu Banjir Berulang di Bojongsoang Bandung
Warga Perumahan D’Amerta Residence di kawasan Ciganitri, masih dihantui ancaman banjir susulan setelah luapan sungai yang terjadi pada April 2026

MITRAPOL.com, Bandung – Warga Perumahan D’Amerta Residence di kawasan Ciganitri, masih dihantui ancaman banjir susulan setelah luapan sungai yang terjadi pada April 2026. Pendangkalan dan penyempitan alur sungai disebut menjadi faktor utama meningkatnya risiko genangan.

Banjir yang terjadi pada Senin (13/4/2026) sempat merendam puluhan rumah warga. Tiga rumah di RT 6 RW 16 mengalami dampak paling parah karena berada dekat titik jebolnya tanggul. Ketinggian air di dalam rumah dilaporkan mencapai 20 hingga 30 sentimeter.

Dalam beberapa kejadian hujan berikutnya, genangan kembali muncul meski berlangsung singkat. Namun pada Kamis (30/4/2026), hujan deras kembali menyebabkan debit air meningkat hingga menerobos tanggul darurat di dua titik.

Warga telah membangun tanggul sementara dari karung pasir dan batu untuk menutup bagian yang jebol. Namun, langkah tersebut dinilai belum mampu menjadi solusi jangka panjang.

Menurut warga, akar persoalan terletak pada kondisi sungai yang mengalami pendangkalan dan penyempitan, terutama di sepanjang perbatasan antara D’Amerta Residence dan kawasan Podomoro Park.

Warga menyebut perubahan tata guna lahan di sekitar kawasan turut memperparah kondisi. Lahan yang sebelumnya berupa sawah dan kolam kini berubah menjadi kawasan permukiman dengan permukaan keras yang mengurangi daya serap air.

Selain itu, terdapat pengurugan lahan di sisi belakang sungai yang membuat elevasi tanah meningkat signifikan, bahkan mendekati ketinggian atap rumah warga.

Salah satu warga terdampak, Sukmaya, menjelaskan bahwa sebelumnya genangan hanya bersifat sementara dan cepat surut.

“Dulu genangan hanya sebentar dan cepat surut. Sekarang kondisinya berbeda karena sungai menyempit dan dangkal,” ujarnya.

Warga juga menyoroti keterbatasan akses untuk normalisasi sungai. Pada tahap awal pembangunan, sempat dilakukan pengerukan menggunakan alat berat. Namun saat ini akses ke sungai dinilai semakin terbatas akibat adanya pembatas di sepanjang bantaran.

Kondisi tersebut dinilai menyulitkan upaya penanganan teknis, seperti pengerukan lanjutan maupun pelebaran sungai.

Perubahan fungsi sungai dari saluran irigasi menjadi drainase kawasan permukiman turut memengaruhi kapasitas tampung air. Warga menyebut, dalam kondisi hujan deras—terutama jika terjadi di wilayah hulu—kenaikan muka air sungai bisa mencapai sekitar satu meter dari kondisi normal.

Warga berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera melakukan penanganan komprehensif, mulai dari normalisasi sungai, penataan bantaran, hingga pengelolaan tata ruang. Tanpa langkah tersebut, banjir berulang dikhawatirkan akan terus terjadi dan berdampak lebih luas.