MITRAPOL.com, Aceh — Krisis pangan mulai dirasakan sejumlah kecamatan di Aceh Utara setelah banjir besar menutup akses keluar-masuk wilayah tersebut sejak akhir pekan lalu. Dengan jalur logistik utama dari Bireuen dan Aceh Tamiang yang terputus, warga di berbagai desa kini kesulitan memperoleh kebutuhan pokok. Di tengah situasi darurat ini, PTPN IV Regional VI mendirikan dua dapur umum darurat di Kecamatan Indra Makmu, salah satu kawasan yang terdampak paling parah.
Akibat hujan ekstrem yang mengguyur wilayah hulu, suplai beras, minyak goreng, hingga gas elpiji praktis terhenti. Hingga Selasa (2/12/2025), enam kecamatan dilaporkan masih terisolasi karena jalur darat belum sepenuhnya dapat dilalui. Stok kebutuhan pokok di sejumlah warung juga semakin menipis, sementara banyak warga tidak dapat memasak karena dapur rumah mereka terendam banjir.
Dalam kondisi tersebut, dua dapur umum yang didirikan PTPN IV di Afdeling I dan Afdeling II menjadi penopang utama kebutuhan pangan warga. Setiap hari, petugas perusahaan bersama relawan dan warga setempat memasak serta menyalurkan makanan hangat kepada pengungsi maupun warga yang bertahan di rumahnya masing-masing.
“Air sudah masuk sampai ke dapur, kami tidak bisa masak apa-apa lagi. Gas habis, minyak habis,” ujar Febri, warga Indra Makmu yang mengungsi bersama keluarganya. “Makanan dari dapur umum ini yang membuat kami bisa makan layak sejak kemarin.”
Menu yang disiapkan disesuaikan dengan ketersediaan bahan, mulai dari nasi, telur, mi instan, hingga lauk sederhana. Meski terbatas, bantuan ini menjadi suplai penting agar warga tetap memperoleh makanan layak di tengah krisis logistik.
Distribusi Bantuan Terkendala Minimnya Stok Pasar
Selain mendirikan dapur umum, PTPN IV juga menyalurkan paket sembako ke sejumlah wilayah seperti Blang Nisam, Jambo Bale, Pelita, Seuneubok Bayu, SKM, serta beberapa desa di Kecamatan Langkahan. Namun proses distribusi tidak berjalan mudah karena pasokan bahan pokok di pasar sudah menipis dan akses transportasi terputus di banyak titik.
“Stok bahan pokok di pasar mulai habis dan akses transportasi terputus. Tapi penyaluran tidak boleh berhenti,” kata Region Head Regional VI PTPN IV, Yudi Cahyadi. Ia menambahkan, tim harus mencari jalur alternatif untuk memastikan bantuan sampai ke titik-titik terdampak.
Pemetaan wilayah prioritas pun terus dilakukan, terutama desa-desa yang masih terisolasi dan belum tersentuh bantuan dari pihak manapun. Kecamatan Langkahan menjadi salah satu titik fokus karena suplai kebutuhan pokok di wilayah itu semakin menipis.
Warga Bergantung pada Bantuan Darurat
Di berbagai lokasi banjir, warga bukan hanya kehilangan tempat tinggal dan perabotan, tetapi juga lahan pertanian, ternak, serta persediaan makanan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat sangat bergantung pada bantuan darurat hingga jalur logistik kembali normal.
PTPN IV memastikan bahwa dapur umum akan terus beroperasi selama akses distribusi pangan belum stabil. “Kami memastikan setiap keluarga mendapatkan suplai harian. Ini langkah yang harus diambil ketika pasokan pangan sulit masuk,” tegas Yudi.
Sementara itu, BPBD Aceh Utara masih terus mendata desa-desa yang belum terjangkau bantuan. Curah hujan yang belum menunjukkan penurunan diperkirakan memperpanjang proses pemulihan di sejumlah wilayah terdampak.












