MITRAPOL.com | Tasikmalaya – Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA), Anton Charliyan, yang akrab disapa Abah Anton, kembali mengajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan adat, tradisi, serta budaya warisan leluhur Sunda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan pengaruh budaya asing.
Ajakan tersebut disampaikan Abah Anton dalam refleksi budaya yang mengangkat kembali nilai-nilai luhur warisan karuhun Sunda, Minggu (7/6/2026).
Menurut Abah Anton, pesan pelestarian budaya telah diwariskan sejak lama melalui berbagai naskah kuno, salah satunya Amanat Galunggung yang mengandung nilai-nilai penting tentang kewajiban menjaga kabuyutan atau tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual bagi masyarakat Sunda.
“Warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi identitas yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Mantan Kapolda Jawa Barat tersebut menilai derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi telah membawa berbagai pengaruh budaya dari luar yang tidak seluruhnya sejalan dengan nilai-nilai budaya lokal.
Karena itu, ia mengingatkan generasi muda, khususnya Generasi Z, agar tetap terbuka terhadap kemajuan zaman tanpa kehilangan jati diri dan identitas budaya bangsa.
“Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman harus diikuti. Namun akar budaya, adat istiadat, bahasa daerah, serta nilai-nilai kearifan lokal harus tetap dijaga sebagai identitas dan kehormatan bangsa,” katanya.
Abah Anton juga mengajak para tokoh masyarakat, budayawan, akademisi, pemuda, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama merawat dan melestarikan budaya daerah masing-masing sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Menurutnya, pelestarian budaya harus dimulai dari hal-hal sederhana, seperti penggunaan bahasa daerah, pelestarian aksara tradisional, pakaian adat, kesenian daerah, kuliner tradisional, hingga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Dalam konteks budaya Sunda, ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai yang dikenal dalam falsafah kehidupan masyarakat Sunda, yakni silih asih, silih asah, dan silih asuh, yang mengandung makna saling menyayangi, saling memberi pengetahuan, dan saling membimbing dalam kehidupan bermasyarakat.
Abah Anton juga mengingatkan bahwa sejumlah warisan budaya Indonesia pernah menjadi perdebatan di tingkat internasional terkait klaim budaya. Oleh sebab itu, menurutnya, pelestarian budaya harus dilakukan secara nyata agar warisan leluhur tetap dikenal, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi penerus.
Ia menegaskan bahwa Tanah Parahyangan memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan kearifan lokal yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.
“Menjaga budaya berarti menjaga jati diri bangsa. Warisan leluhur harus terus dirawat agar tetap hidup di tengah masyarakat dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujarnya.
Di akhir pesannya, Abah Anton mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga marwah budaya Sunda dan budaya Nusantara sebagai bagian dari peradaban bangsa yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Lebih hina derajatnya dari bangkai yang ada di tempat sampah, jika Rajaputra tidak mampu menjaga Kabuyutan (Tempat Suci, Ibu Pertiwi) serta tradisi adat budaya leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur karuhun Sunda.
Itu lah sekelumit pesan dari Naskah lontar Amanat Galunggung Abad ke XVI M sebagai salah satu amanat pesan suci yang harus dipatuhi oleh seluruh warga Sunda dan keturunannya sebagai Ki Sunda sajati.
“Mari bersama-sama menjaga budaya, adat, dan tradisi sebagai identitas bangsa yang berkarakter, beradab, dan memiliki nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya.












