Scroll untuk baca artikel
Opini

Menanam Kebaikan Selagi Sempat

Admin
×

Menanam Kebaikan Selagi Sempat

Sebarkan artikel ini
Menanam Kebaikan Selagi Sempat
Hendry Ch Bangun

Oleh: Hendry Ch Bangun

Ciputat, 23 Agustus 2026 — Seusai berjalan kaki sekitar 45 menit untuk mencari udara segar di sekitar rumah, dilanjutkan olahraga indoor dengan delapan gerakan selama kurang lebih 15 menit, saya duduk di teras. Pandangan saya tertuju pada pohon mangga yang berusia sekitar enam tahun di balik pagar.

Pohon itu sedang berbunga. Ada sekitar 20 klaster bunga yang muncul di antara rimbunnya daun hijau. Jika sebagian besar berhasil menjadi buah, dua atau tiga bulan lagi ratusan mangga mungkin bisa dipanen. Namun, seperti biasanya, tidak semua bunga akan bertahan. Sebagian akan gugur dalam proses pembuahan.

Pemandangan itu mengingatkan saya pada pengalaman beberapa hari sebelumnya. Dengan wajah sumringah, saya memberitahu istri bahwa ada enam mangga muda berukuran sekitar 8–10 sentimeter yang tersembunyi di balik dedaunan. Buah-buah itu luput dari perhatian kami, meskipun hampir setiap sore saya naik ke teras atas untuk menutup pintu, menyalakan lampu, atau menyiram tanaman.

Kegembiraan itu ternyata hanya berlangsung empat hari.

Suatu sore, saya menemukan sebuah mangga muda tergeletak di luar pagar. Buah itu masih utuh meskipun terdapat sedikit goresan. Saya segera naik ke teras untuk memeriksa enam mangga yang sebelumnya terlihat. Ternyata semuanya sudah tidak ada.

Keesokan paginya saya kembali mencarinya bersama istri. Tidak ditemukan. Saya bahkan mengajak anak untuk ikut memeriksa karena berharap mata yang lebih muda lebih jeli. Hasilnya sama: enam mangga muda itu hilang.

Kami pun harus menunggu lebih lama untuk menikmati mangga Thailand tersebut. Jika Allah mengizinkan, tentu akan ada kesempatan berikutnya.

Menanam Sejak Kecil

Saya memang menyukai kegiatan menanam, terutama pohon buah-buahan.

Di rumah orang tua di kawasan Padang Bulan, Medan, masih ada pohon mangga golek yang saya tanam ketika masih kecil. Sekitar 1967, ayah saya pulang dari Jakarta membawa oleh-oleh berupa mangga. Biji buah itu saya tanam di samping sumur. Tidak disangka, pohon tersebut tumbuh subur dan kemudian berbuah lebat.

Di rumah lama di Kampung Sawah, Ciputat, saya juga pernah memiliki berbagai tanaman buah. Ada pohon sawo yang meskipun kecil menghasilkan banyak buah. Setiap saudara datang, mereka dapat memetik hingga setengah ember untuk dibawa pulang.

Namun, pohon itu akhirnya harus ditebang karena buahnya sering dimakan kelelawar. Air liurnya bahkan mengotori tembok tetangga dan mobil yang diparkir di pinggir jalan.

Ada pula pohon kakao yang bibitnya saya bawa dari kebun kakak sepupu di sekitar Sunggal. Buahnya besar dan cukup banyak, tetapi kerap diambil anak-anak tetangga. Pohon mangga, salam, belimbing, bintaro, dan pepaya juga pernah menghiasi halaman rumah.

Sebagian tumbuh subur, sebagian lainnya tidak bertahan. Ada yang harus ditebang karena mengganggu lingkungan, ada pula yang kalah bersaing dengan tanaman parasit.

Begitulah menanam. Tidak semua yang kita tanam akan tumbuh sesuai harapan. Tetapi prosesnya selalu mengajarkan kesabaran.

Menanam Sampai Napas Terakhir

Kecintaan saya terhadap tanaman semakin kuat setelah mendengar sebuah khotbah saat salat Jumat di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada Agustus 1991.

Saat itu saya berada di New York untuk meliput kiprah petenis Indonesia, Yayuk Basuki, di turnamen Grand Slam AS Terbuka. Saya bersama wartawan Antara ketika itu, Bahran Asmawi, berkesempatan berkunjung ke ruang kerjanya dan ruang kerja wartawan Kompas, Threes Nio. Karena bertepatan dengan hari Jumat, kami mengikuti salat berjamaah di salah satu ruangan besar.

Khatib menyampaikan pesan yang sangat membekas:

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika dia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah.”

Pesan tersebut, yang disampaikan dengan mengutip hadis, saya pahami sebagai ajakan untuk terus berbuat baik selama masih diberi kesempatan hidup.

Bagi saya, pohon merupakan salah satu bentuk nyata dari kebaikan. Ia menghasilkan buah, menghijaukan lingkungan, menjadi bagian dari ekosistem, dan membantu menjaga kualitas udara.

Menanam juga relatif mudah dilakukan. Alam telah menunjukkan hal itu. Biji buah yang jatuh, dibawa burung atau diterbangkan angin dapat tumbuh menjadi tanaman baru.

Dalam perjalanan kaki di sekitar rumah, saya beberapa kali menemukan bibit tanaman yang tumbuh liar. Ada mangga, bintaro, alpukat dan jenis tanaman lainnya. Beberapa saya pungut dan tanam kembali.

Tidak selalu berhasil. Tetapi kalau tumbuh, ia bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat jauh lebih lama daripada usia kita.

Wartawan Juga Menanam

Kemudian saya berpikir, pekerjaan wartawan sebenarnya juga merupakan kegiatan menanam.

Bedanya, yang ditanam bukan bibit pohon, melainkan berita.

Berita yang baik dapat dibaca, dipahami, dan memberi manfaat kepada banyak orang. Berita yang mencerahkan dapat membuka wawasan. Berita yang inspiratif dapat menggerakkan seseorang. Berita yang kritis dapat mendorong perbaikan.

Seperti pohon yang menghasilkan buah, berita yang baik tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan niat yang baik, perencanaan, pengumpulan data dan fakta, narasumber yang kompeten, verifikasi, pilihan kata yang tepat, serta kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

Karena itu, wartawan tidak cukup hanya pandai menulis. Ia juga harus rajin membaca.

Pada masa awal saya menjadi wartawan, berita dari kantor berita asing seperti AFP dan Reuters masih datang melalui teleks. Di meja pimpinan redaksi juga tersedia koran-koran dari berbagai negara.

Dari sana kami belajar. Bukan sekadar mengenai isi berita, tetapi juga cara memilih fakta, menyusun informasi, menggunakan diksi, dan membangun sudut pandang.

Apa yang sering dibaca lambat laun akan membentuk cara berpikir dan karakter seseorang. Dari situlah seorang wartawan menemukan gaya penulisannya sendiri.

Kritik Tetap Perlu, Tetapi Tidak Harus Menyakiti

Saya teringat pesan almarhum Bob Hasan ketika menjadi Ketua Umum PB PASI. Ia pernah mengingatkan wartawan agar tidak hanya mencari-cari kesalahan atlet.

Pada masa itu, pemberitaan olahraga di media cetak terkadang cenderung menonjolkan kegagalan.

Ketika atlet Indonesia meraih medali perak setelah berjuang mengalahkan sejumlah lawan, misalnya, judul yang muncul bisa saja berbunyi, “Indonesia gagal meraih medali emas.”

Sementara itu, media asing seperti The Straits Times dapat memilih sudut pandang berbeda ketika atlet Singapura meraih medali perunggu. Prestasi tersebut tetap diberi apresiasi sehingga menumbuhkan kebanggaan bagi atlet dan negaranya.

Pesannya sederhana: prestasi tetap layak dihargai, apa pun tingkat pencapaiannya.

Tentu saja, penghargaan terhadap prestasi tidak berarti media harus kehilangan sikap kritis. Pers tetap memiliki fungsi kontrol sosial. Media harus berani mengungkap persoalan yang menyangkut kepentingan publik, termasuk mengkritisi kebijakan dan kinerja penyelenggara negara.

Namun, kritik tidak selalu harus disampaikan dengan cara mempermalukan.

Diksi dan sudut pandang menjadi penting. Terlebih masyarakat kita mengenal ungkapan “sudah jatuh tertimpa tangga”. Seseorang yang sedang menghadapi persoalan bisa mengalami penderitaan berlapis apabila pemberitaan justru memperburuk keadaan.

Karena itulah pedoman jurnalistik yang mengedepankan perlindungan dan empati terhadap kelompok rentan menjadi penting. Pemberitaan tentang anak, penyandang disabilitas, maupun korban peristiwa tertentu membutuhkan kehati-hatian agar pers tidak menambah beban mereka.

Menanam Kebaikan Melalui Pers

Menanam kebaikan bukan berarti wartawan harus berhenti mengkritik.

Justru sebaliknya, pers tetap harus menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen. Tetapi kritik seharusnya lahir dari fakta, bukan kemarahan; dari kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi; dan dari keinginan memperbaiki keadaan, bukan sekadar mempermalukan seseorang.

Ada pemimpin yang tidak suka dikritik secara terbuka. Ada pula pejabat yang merasa tersudut ketika kekurangannya diberitakan. Dalam situasi seperti itu, wartawan membutuhkan pengalaman, kecerdasan emosional, dan kemampuan membaca kondisi sosial.

Kematangan jurnalistik tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak berita yang telah ditulis, tetapi juga oleh seberapa bijak seorang wartawan memilih fakta dan menyampaikannya kepada publik.

Saya pernah membaca tulisan mengenai mantan Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma, yang mengangkat berbagai kekeliruannya ketika berbicara, termasuk kesalahan menyebut angka dan kebiasaannya berjoget di panggung. Tulisan semacam itu tidak perlu selalu menyampaikan kesimpulan secara langsung. Pembaca yang cerdas dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan.

Di situlah kekuatan jurnalistik: menyampaikan fakta dengan cara yang membuat pembaca berpikir.

Jangan Berhenti Belajar

Wartawan tidak boleh berhenti belajar.

Membaca harus menjadi kebiasaan. Berbicara dengan orang-orang yang berilmu dan bijaksana juga penting. Demikian pula memahami masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara, serta perubahan zaman.

Wartawan yang terus belajar akan memiliki perbendaharaan kata yang lebih kaya, wawasan yang lebih luas, dan kemampuan yang lebih baik dalam memahami persoalan.

Pada akhirnya, saya melihat kembali pohon mangga di depan rumah.

Enam buah yang sempat saya banggakan telah hilang. Tetapi pohonnya tetap ada. Ia kembali berbunga dan mungkin akan menghasilkan buah baru.

Begitulah kebaikan.

Tidak semua yang kita tanam langsung bisa kita nikmati. Ada yang tumbuh setelah kita pergi. Ada yang hasilnya dinikmati orang lain. Bahkan ada yang tidak pernah kita ketahui siapa yang menikmatinya.

Namun, selama sesuatu yang kita tanam memberi manfaat, pekerjaan itu tidak pernah benar-benar sia-sia.

Karena itu, selagi masih sempat, mari menanam.

Tanamlah pohon, tanamlah ilmu, tanamlah persahabatan, tanamlah kejujuran, dan bagi seorang wartawan, tanamlah berita yang benar, berimbang, mencerahkan, dan bermanfaat.

Sebab bisa jadi, ketika kita sudah tidak ada, sesuatu yang kita tanam masih terus memberikan manfaat.

Wallahu a’lam bishawab.