MITRAPOL.com, Tanjungpinang — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meminta pengendalian banjir di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, dilakukan secara menyeluruh mulai dari kawasan hulu sungai, aliran, hingga muara sungai.
Arahan tersebut disampaikan Dody Hanggodo saat meninjau Waduk Srikaton di Kota Tanjungpinang, Minggu (30/8/2026).
Dalam kunjungan itu, Dody didampingi Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah, Wakil Wali Kota Raja Ariza, serta jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian PU di Kepulauan Riau.
Dody menekankan pentingnya memastikan kawasan sempadan sungai di bagian hilir tidak dipenuhi bangunan liar.
Selain itu, kondisi saluran dari wilayah hilir hingga muara perlu diperiksa untuk mengidentifikasi sedimentasi maupun penyempitan aliran yang berpotensi menjadi penyebab banjir.
“Area sempadan sungai di bagian hilir tidak dibangun bangunan liar dan melakukan pengecekan terhadap saluran dari area hilir sampai dengan area muara untuk memastikan terdapat sedimen yang parah ataupun bottleneck yang menyebabkan banjir,” kata Dody.
Waduk Srikaton menjadi salah satu infrastruktur pengendalian banjir di Tanjungpinang. Waduk tersebut memiliki luas lahan 2,93 hektare dengan kapasitas tampungan mencapai 80.588 meter kubik.
Saat terjadi hujan lebat, Waduk Srikaton disebut mampu menampung debit banjir puncak hingga 51.588 meter kubik. Infrastruktur tersebut tercatat berkontribusi terhadap reduksi banjir sebesar 1,79 persen dari luas daerah aliran sungai (DAS).
Namun, Dody menegaskan pengendalian banjir tidak dapat hanya mengandalkan satu infrastruktur.
Kondisi jaringan sungai dan saluran air hingga muara juga perlu mendapat perhatian untuk memastikan aliran air tetap berfungsi optimal.
Selain Waduk Srikaton, Dody meninjau Sungai Terusan yang merupakan jaringan kanal lama dan memiliki nilai historis sebagai bagian dari peninggalan masa Kerajaan Melayu.
Dody mengarahkan agar Sungai Terusan direvitalisasi dan dioptimalkan kembali sehingga fungsi kanal dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk mendukung aktivitas nelayan.
Untuk memperoleh gambaran kondisi lapangan secara menyeluruh, Dody menginstruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV Batam melakukan pemantauan menggunakan drone di sepanjang jalur Sungai Terusan.
Hasil pemantauan tersebut akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Saat ini, Sungai Terusan mengalami penyempitan yang antara lain dipengaruhi pertumbuhan tanaman bakau. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang akan dikaji dalam rencana optimalisasi fungsi kanal.
“Saya telah menginstruksikan BWS Sumatera IV Batam untuk melakukan pemantauan menggunakan drone di sepanjang jalur aliran Sungai Terusan, sehingga kondisi lapangan dapat terlihat secara menyeluruh dan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan yang tepat,” ujar Dody.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pengendalian banjir sekaligus mengoptimalkan fungsi jaringan sungai dan kanal di Kota Tanjungpinang.












