Jakarta

PKHI Go International, Komunitas Hipnotis Indonesia Resmi Merambah Dunia

Admin
×

PKHI Go International, Komunitas Hipnotis Indonesia Resmi Merambah Dunia

Sebarkan artikel ini
Komunitas Hipnotis Indonesia Resmi Merambah Dunia
Komunitas Hipnotis Indonesia

MITRAPOL.com, Jakarta – Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PKHI) terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam dunia hipnoterapi nasional maupun internasional. Setelah 12 tahun berdiri, organisasi profesi ini kini resmi memperluas jaringannya ke sejumlah negara melalui pembentukan Dewan Pengurus Luar Negeri (DPLN), menandai langkah strategis PKHI dalam memperkuat gerakan kesehatan mental berbasis hipnoterapi di tingkat global.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat PKHI, Ir. Avifi Arka, Ph.D., CHt., CI, mengatakan minat masyarakat terhadap ilmu hipnotis untuk kepentingan hipnoterapi terus meningkat, termasuk dari kalangan diaspora Indonesia di berbagai negara.

“Antusiasme masyarakat untuk mempelajari hipnoterapi sangat tinggi. Namun jumlah praktisi yang tersedia masih belum sebanding dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan mental,” ujar Avifi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (10/5/2026).

Sekretaris Jenderal PKHI, Dr. A. Fauzan Asmara, M.Psi., M.M., CHt., CI, mengungkapkan hingga saat ini PKHI telah memiliki sekitar 16 ribu anggota praktisi hipnoterapi yang tersebar di seluruh Indonesia dan sejumlah negara.

Menurutnya, keahlian hipnoterapi kini tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga diminati warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti di Jepang, Australia, Inggris, Arab Saudi, Malaysia, dan Timor Leste.

Momentum ekspansi internasional tersebut diperkuat dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) PKHI 2026 yang digelar di Surabaya pada 25–26 April 2026. Dalam agenda itu, PKHI melantik sejumlah Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan Dewan Pengurus Luar Negeri (DPLN) baru.

Ketua Pelaksana Silatnas PKHI, Donny, menyebut ekspansi tersebut bukan sekadar perluasan organisasi, tetapi bagian dari penguatan misi sosial PKHI.

“Ini bukan hanya pengembangan struktur organisasi, tetapi sinyal nyata bahwa gerakan kesehatan mental berbasis hipnoterapi Indonesia mulai menjangkau komunitas diaspora di berbagai belahan dunia,” ujarnya.

PKHI menegaskan bahwa hipnoterapi merupakan metode ilmiah dalam membantu penyembuhan gangguan psikologis dengan pendekatan terapi alam bawah sadar, bukan praktik mistik atau klenik seperti yang selama ini kerap disalahpahami masyarakat.

Avifi menjelaskan, pendekatan hipnoterapi telah lama dikenal dalam ilmu psikologi modern dan memiliki akar sejarah panjang, termasuk dalam perkembangan psikoanalisis.

Karena itu, PKHI terus mendorong penguatan kapasitas anggotanya melalui pendidikan, pelatihan, serta uji kompetensi agar layanan hipnoterapi di Indonesia semakin profesional dan terstandarisasi.

PKHI juga tercatat sebagai organisasi profesi mitra pemerintah yang bekerja sama dengan sejumlah kementerian, termasuk Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Ketenagakerjaan.

Selain itu, melalui Indonesian Hypnosis Centre (IHC), PKHI menjalin kolaborasi akademik dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam pengembangan Transpersonal Clinical Hypnotherapy di Indonesia.

Dukung Akses Kesehatan Mental untuk Semua Kalangan

Silatnas PKHI 2026 juga menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi terkemuka, di antaranya Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, Ph.D., Psikolog dari UGM serta dr. Pukovisa Prawiroharjo, Ph.D. dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam kegiatan itu, mantan Menteri Sosial RI periode 2020–2024, Tri Rismaharini, dikukuhkan sebagai anggota kehormatan PKHI atas kontribusinya dalam isu kesehatan mental masyarakat.

Risma mengapresiasi peran para praktisi hipnoterapi yang dinilai mampu menjangkau kelompok masyarakat rentan yang selama ini belum tersentuh layanan kesehatan mental formal.

“Banyak masyarakat yang tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan luka batin mereka,” ujar Risma.

Ia berharap para praktisi PKHI terus memperluas pengabdian, terutama kepada kelompok masyarakat marginal, korban trauma, penyintas bencana, hingga mereka yang mengalami tekanan psikologis berkepanjangan.

Dengan ekspansi internasional ini, PKHI optimistis dapat menjadi salah satu motor penggerak penting dalam penguatan layanan kesehatan mental berbasis komunitas, baik di Indonesia maupun dunia.