MITRAPOL.com, Jakarta — Pemikir dan rohaniwan Franz Magnis-Suseno atau yang dikenal sebagai Romo Magnis, mengingatkan pentingnya menjaga prinsip politik bebas aktif di tengah tekanan global dan dinamika konflik internasional, termasuk isu Gaza.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan podcast yang digelar Institut Marhaenisme27 bertajuk “Siraman Air Keras: Cara Otoritarianisme Melumat Wajah Keadilan”, Kamis (19/3/2026), dengan host jurnalis sekaligus aktivis, Emzi.
Dalam forum tersebut, Franz Magnis-Suseno menyoroti kasus kekerasan terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang dinilai sebagai ancaman serius bagi demokrasi dan nilai kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan, melainkan harus mampu mengungkap aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.
“Jika dalang tidak terungkap, maka kekerasan berpotensi menjadi alat pembungkaman dan merusak integritas hukum,” ujarnya.
Selain isu domestik, Romo Magnis juga menyoroti dinamika geopolitik global, khususnya keterlibatan Indonesia dalam inisiatif Board of Peace (BoP) yang dikaitkan dengan Donald Trump terkait konflik Gaza.
Ia mengingatkan agar Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik bebas aktif, yakni tidak terikat pada kepentingan negara tertentu, namun tetap aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia.
Menurutnya, konflik Palestina saat ini tidak lagi semata persoalan kemanusiaan, tetapi telah menjadi bagian dari kepentingan politik dan ekonomi global sejak Perang Enam Hari 1967.
Ia juga menyinggung adanya kecenderungan aliansi strategis antara Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi yang dinilai lebih fokus pada pembendungan pengaruh Iran, sehingga isu kemerdekaan Palestina kerap terpinggirkan.
Dalam konteks tersebut, Romo Magnis menekankan pentingnya peran masyarakat sipil sebagai penjaga moral kekuasaan. Ia menilai kekuatan moral Indonesia di kancah internasional sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menegakkan hukum dan melindungi hak asasi manusia.
Di sisi lain, ia juga memberikan catatan kritis terhadap program sosial pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengingatkan agar program tersebut tidak dipolitisasi sebagai alat legitimasi kekuasaan.
“Program sosial harus dijalankan secara transparan dan benar-benar menyasar kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti keterlibatan TNI dalam program tersebut sebagai potensi penyimpangan dari profesionalisme militer yang seharusnya fokus pada fungsi pertahanan negara.
Secara keseluruhan, Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa kekuatan moral Indonesia di tingkat global hanya dapat terwujud apabila negara konsisten menegakkan keadilan, menjaga kemandirian politik, serta memastikan seluruh institusi berjalan sesuai prinsip demokrasi.












