MITRAPOL.com, Lampung — Letusan senjata yang melumpuhkan komplotan begal penembak polisi di Lampung pekan ini menghadirkan dua respons sekaligus: rasa lega dari masyarakat dan apresiasi atas respons cepat aparat. Operasi Polda Lampung menunjukkan negara hadir ketika ancaman kejahatan jalanan menimbulkan keresahan.
Namun, pertanyaan yang lebih besar justru muncul setelahnya: apakah menembak pelaku di lapangan cukup untuk menghentikan kejahatan itu sendiri?
Bagi Septa Aditya Aslam, jawabannya jelas: tidak.
Peneliti dari Center for Legal Policy and Digital Dynamics itu menilai pendekatan represif yang hanya berfokus pada pelaku lapangan berisiko menjadi solusi semu. Pelaku mungkin tumbang, tetapi akar persoalan tetap hidup.
“Jangan cuma puas menembak pelaku di lapangan,” kata Septa.
Pernyataan itu terdengar keras, tetapi menyimpan kritik yang relevan. Sebab begal bukan sekadar individu yang tiba-tiba memilih jalan kriminal. Banyak di antara mereka lahir dari problem sosial yang lebih dalam: kemiskinan, putus sekolah, gaya hidup konsumtif, kecanduan narkoba, hingga jeratan judi online.
Dalam konteks itu, begal hanyalah ujung rantai.
Di hulunya, ada bandar narkoba yang memasok ketergantungan. Ada operator judi online yang merusak daya pikir dan mendorong kebutuhan instan akan uang. Ada pula sindikat penadah yang menciptakan pasar bagi barang curian. Selama tiga simpul itu tetap hidup, kejahatan jalanan akan selalu menemukan regenerasinya.
Logikanya sederhana: selama motor curian masih laku dijual, selama narkoba tetap mudah diperoleh, dan selama judi online terus menguras akal sehat, maka begal akan terus bermunculan.
Karena itu, kritik Septa sesungguhnya bukan penolakan terhadap tindakan tegas aparat. Ia justru mengakui bahwa langkah represif kadang diperlukan untuk menghentikan ancaman langsung.
Tetapi tindakan tegas, menurutnya, harus menjadi pintu masuk—bukan titik akhir.
Ada tiga catatan penting yang ia sodorkan kepada aparat penegak hukum.
Pertama, berani menyasar aktor utama. Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada “kelas teri”. Bandar narkoba, operator judi online, dan pengendali jaringan harus menjadi target prioritas.
Kedua, memutus rantai ekonomi kejahatan. Sindikat penadah harus diburu dengan keseriusan yang sama seperti memburu pelaku begal. Sebab tanpa pembeli, barang curian kehilangan nilai.
Ketiga, membersihkan institusi dari dalam. Kritik ini paling sensitif, tetapi justru paling penting. Integritas aparat adalah fondasi kepercayaan publik. Jika ada oknum yang ikut menikmati hasil kejahatan—sekecil apa pun—maka seluruh upaya pemberantasan akan kehilangan legitimasi.
Dalam perspektif kebijakan kriminal modern, pandangan ini bukan hal baru. Banyak studi menunjukkan bahwa kejahatan jalanan tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari ekosistem kriminal yang lebih besar.
Karena itu, keberhasilan menembak satu begal tidak otomatis berarti kemenangan.
Kemenangan sejati baru terjadi ketika bandar narkoba kehilangan pasar, judi online kehilangan operator, penadah kehilangan pembeli, dan masyarakat kehilangan alasan untuk takut keluar rumah.
Di titik itulah negara benar-benar hadir—bukan hanya sebagai penindak, tetapi sebagai pemutus rantai kejahatan.
Dan mungkin, di situlah makna penegakan hukum yang sesungguhnya: bukan sekadar melumpuhkan pelaku, tetapi memastikan kejahatan itu tidak lagi punya ruang untuk tumbuh.












