MITRAPOL.com | Nabire, Papua Tengah – SMP Negeri 1 Nabire mengembalikan seorang siswa berinisial A kepada orang tuanya setelah yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan terhadap seorang pelajar yang identitasnya disamarkan dengan inisial CK.
Keputusan tersebut disampaikan pihak sekolah sebagai tindak lanjut atas proses hukum yang sedang berjalan, sekaligus mempertimbangkan kondisi psikologis siswa serta keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 1 Nabire, Theresia I. Maker, S.Pd., M.MPd, mengatakan pihak sekolah turut prihatin atas peristiwa tersebut.
Menurutnya, selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah, A tidak pernah menunjukkan perilaku yang mengindikasikan potensi terjadinya peristiwa tersebut.
“Selama berada di lingkungan sekolah, yang bersangkutan berperilaku seperti siswa pada umumnya dan tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda yang mengarah pada peristiwa tersebut,” ujarnya.
Theresia menjelaskan, sekolah secara rutin melaksanakan pembinaan karakter melalui berbagai program pembiasaan yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, serta memberikan edukasi kepada siswa agar menjaga pergaulan dan menghindari perilaku yang dapat berdampak negatif.
Ia menambahkan, mekanisme penanganan pelanggaran di sekolah dilakukan secara bertahap, mulai dari pemberian pembinaan, pemanggilan siswa, pemanggilan orang tua, hingga pengembalian siswa kepada orang tua apabila pelanggaran yang dilakukan tergolong berat.
Menurutnya, keputusan mengembalikan A kepada orang tua diambil karena perkara yang dihadapi telah memasuki proses hukum.
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan bahwa sebagai anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), A tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan.
Karena itu, SMP Negeri 1 Nabire akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan instansi terkait guna memastikan hak pendidikan siswa tersebut tetap terpenuhi melalui mekanisme yang berlaku.
Selain itu, sekolah mengajak para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak di luar jam pelajaran.
Menurut Theresia, peran keluarga menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter sekaligus mencegah anak terlibat dalam tindakan yang bertentangan dengan norma sosial maupun hukum.
SMP Negeri 1 Nabire juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pendidikan karakter, kedisiplinan, serta pengawasan terhadap peserta didik sebagai upaya mencegah terulangnya peristiwa serupa.












