MITRAPOL.com, Sukabumi — SDN Legokloa di Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, masih menunggu rehabilitasi satu ruang kelas yang mengalami kerusakan berat hingga roboh diterjang angin kencang.
Selain persoalan ruang kelas, sekolah juga menghadapi keterbatasan fasilitas sanitasi. Saat ini, SDN Legokloa disebut hanya memiliki dua kamar mandi dengan kondisi yang dinilai kurang layak untuk menunjang kebutuhan siswa dan aktivitas sekolah.
Heriyana, pihak SDN Legokloa, mengatakan kondisi sarana dan prasarana sekolah telah dilaporkan melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Pembaruan data terakhir dilakukan bersamaan dengan sinkronisasi pada awal tahun ajaran baru, Juli 2026.
“Memang betul ada satu ruang kelas 4 yang kondisinya sangat memprihatinkan karena diterjang angin kencang sehingga bangunan tersebut roboh,” kata Heriyana kepada MITRAPOL.com, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut juga telah diketahui pengawas bina yang melakukan peninjauan langsung ke sekolah. Dengan demikian, laporan kerusakan tidak hanya berdasarkan pendataan administratif, tetapi telah diverifikasi melalui pemantauan di lapangan.
Heriyana menjelaskan, sebelumnya terdapat tiga bangunan yang mengalami kerusakan. Dua di antaranya telah mendapatkan rehabilitasi melalui usulan Dinas Pendidikan, sedangkan satu bangunan masih menunggu penanganan.
“Alhamdulillah, dari tiga bangunan yang roboh, dua sudah direhabilitasi melalui usulan dinas. Tinggal satu bangunan lagi yang belum,” ujarnya.
Sekolah Masih Menunggu Pengajuan Anggaran
Untuk ruang kelas yang belum direhabilitasi, pihak sekolah telah memperoleh informasi bahwa penanganannya harus melalui proses pengajuan dan menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran pemerintah.
“Pihak sekolah sudah memperoleh informasi terkait bangunan yang belum direhabilitasi. Katanya itu menunggu pengajuan permohonan anggaran rehabilitasi kepada pemerintah daerah atau pusat,” jelas Heriyana.
Pihak sekolah, lanjutnya, terus memantau perkembangan usulan tersebut, termasuk kemungkinan realisasi pembangunan berdasarkan skala prioritas dan kemampuan anggaran pemerintah.
Di sisi lain, keterbatasan fasilitas sanitasi juga menjadi perhatian. Saat ini hanya tersedia dua kamar mandi yang digunakan untuk kebutuhan siswa dan kegiatan sekolah.
“Fasilitas kamar mandi siswa juga memang sangat minim. Untuk saat ini cuma ada dua kamar mandi, itu juga kondisi bangunannya sangat kurang layak,” katanya.
Sekolah menyatakan akan tetap mengikuti mekanisme pengajuan yang ditetapkan pemerintah sembari memantau perkembangan rehabilitasi. Pembaruan data sarana dan prasarana melalui Dapodik juga akan terus dilakukan agar kondisi sekolah tercatat sesuai keadaan terkini.
Kondisi SDN Legokloa menjadi gambaran masih adanya kebutuhan pembenahan infrastruktur pendidikan di daerah. Rehabilitasi ruang kelas yang rusak serta peningkatan fasilitas sanitasi diharapkan dapat segera direalisasikan agar kegiatan belajar mengajar berlangsung dalam lingkungan yang lebih aman dan layak.












