MITRAPOL.com, Aceh Selatan – Memasuki hari ke 4, keberadaan Imigran Rohingya di Aceh Selatan belum juga dievakuasi oleh pihak Imigrasi dan NGO, UNHCR dan mitranya. Masyarakat Aceh Selatan hingga saat ini menolak Imigran korban TPPO itu didaratkan di Aceh Selatan, kekhawatiran tersebut disebabkan oleh perlakuan buruk dan pertimbangan sosial lainnya.
Kekhawatiran ini meningkat, sehingga berdampak pada aktivitas nelayan setempat, bahkan nelayan di Labuhan haji sebagian menolak untuk melaut dan meninggalkan kampungnya karena khawatir dibelakang mereka imigran Rohingya didaratkan.
Selain itu, masyarakat yang sebagian besar nelayan itu juga merasa resah pasca adanya jenazah imigran Rohingya yang dibuang kelaut, sebab hal itu sangat bertolak belakang dengan kearifan lokal masyarakat Aceh Selatan.
Panglima Laot Aceh Selatan, M. Jabal membenarkan kondisi tersebut, menurutnya dia hal ini menjadi alasan kuat masyarakat nelayan memilih tidak melaut saat ini.
“Nelayan ikut memantau langsung penanganan terhadap imigran Rohingya tersebut, mereka sangat khawatir jika Rohingya didaratkan di Aceh Selatan, sehingga mereka memilih untuk tidak melaut,” jelas M. Jabal, Senin (21/10/2024).
Terkait hal itu, M. Jabal yang sedari awal ikut terlibat langsung dalam penanganan Imigran Rohingya yang merupakan korban human trafficking atau TPPO itu meminta pihak Imigrasi segera mengambil langkah mengevakuasi Rohingya dari perairan Aceh Selatan.
“Jangan dibiarkan berlarut-larut, saat ini kita sedang menghadapi masalah serius terkait kejahatan nasional human trafficking, kami minta segera di evakuasi para korban TPPO ini ke tempat yang lebih aman,” ucap M. Jabal.
Pewarta: Rian












