MITRAPOL.com, Lebak, Banten – Kondisi memprihatinkan dialami pasangan Arpi (45) dan Rabaya (46), warga Kampung Dungkuk RT 009/RW 003, Desa Cirinten, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak. Mereka bersama anaknya hidup di sebuah rumah tidak layak huni yang kondisinya memprihatinkan.
Rumah berukuran sekitar 4 x 4 meter itu berdinding anyaman bambu yang sudah lapuk dan berlubang di sejumlah bagian. Lantainya masih berupa tanah, sehingga saat hujan turun rumah menjadi becek, sementara saat musim kemarau dipenuhi debu.
Arpi mengaku telah menempati rumah tersebut selama kurang lebih 25 tahun terakhir bersama keluarganya.
“Kalau hujan deras, air masuk ke dalam rumah karena banyak bagian dinding yang sudah bolong. Kami sering khawatir rumah ini ambruk,” ujar Arpi saat ditemui wartawan MITRAPOL, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Arpi, ketika hujan lebat disertai angin kencang, dirinya bersama keluarga kerap mengungsi sementara ke rumah kerabat yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka demi alasan keselamatan.
“Kalau hujan besar, kami biasanya pindah sementara ke rumah saudara karena takut rumah roboh,” katanya.
Sementara itu, suaminya, Rabaya, bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi ekonomi keluarga membuat mereka belum mampu memperbaiki rumah ataupun memenuhi kebutuhan pendidikan anak secara optimal.
Selain persoalan tempat tinggal, Arpi juga mengaku sedih karena anaknya belum dapat melanjutkan sekolah akibat keterbatasan biaya, terutama untuk kebutuhan perlengkapan sekolah seperti seragam, buku, alat tulis, dan sepatu.
“Sekolah memang gratis, tapi kebutuhan lainnya kami belum sanggup memenuhi,” tuturnya.
Arpi mengaku hingga kini belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah dari pemerintah. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak terkait agar keluarganya dapat memiliki tempat tinggal yang lebih layak serta anaknya dapat kembali bersekolah.
“Kami hanya ingin rumah yang layak dan anak bisa sekolah seperti anak-anak lainnya,” ucapnya penuh harap.












