Mahdi Efendi dalam “Banjir” Fitnah…?

MITRAPOL.com, Aceh Barat – Baru sebulan saja Penjabat (Pj) Bupati Aceh Barat Mahdi Effendi memimpin “Bumi Teuku Umar”, namun kritikan pedas dan “menusuk” telah berulang kali menerpanya.

Penggiringan Opini yang diduga sengaja dibangun oleh oknum kelompok tertentu untuk merusak citra baik Mahdi pun berulang kali disampaikan ke media, mulai dari isuee tidak peduli terhadap warga yang ditimpa banjir, berbuat gaduh hingga pemborosan anggaran daerah.

Namun begitu, Mahdi tampaknya tidak ambil pusing dengan berbagai upaya penggiringan opini negatif yang dialamatkan kepada dirinya, Ia terus bekerja dalam senyap untuk membangun Aceh Barat.

Catatan Wartawan Media Mitrapol Aceh, sudah banyak hal yang dilakukan Mahdi sejak dilantik sebagai Pj Bupati Aceh Barat, diantaranya Ia telah berupaya memperbaiki disiplin pegawai, Ia juga sangat memperhatikan masyarakat terdampak banjir, selaku PJ Bupati Aceh Barat, Mahdi berhasil mematangkan peraturan Bupati terkait penanganan kemiskinan, dan mendorong peningkatan akreditasi RSUD Meulaboh.

PJ Bupati Aceh Barat, Mahdi Efendi meminta kepada para dokter di RSUD Meulaboh itu untuk bersama-sama dalam upaya untuk meningkatkan mutu dan pelayanan, agar rumah sakit umum daerah Meulaboh tersebut bisa lebih baik kedepannya.

Pasca banjir yang melanda Aceh Barat, Mahdi telah bergerak cepat melakukan koordinasi dengan berbagai pihak guna memperbaiki sejumlah kerusakan infrastruktur, salah satunya di Desa Blang Luah Kecamatan Woyla Barat.

Pj Bupati Aceh Barat, memerintahkan langsung Kadis PUPR Aceh Barat Dr. Kurdi, ST., MT., untuk melakukan koordinasi dengan Dinas PUPR Aceh serta Kepala UPTD wilayah 4, untuk memperbaiki kerusakan box sebanyak 3 titik di ruas jalan Pasar Ibu – Woyla.

Banyak hal lainnya yang sudah dilakukan Mahdi Efendi sejak dipercayakan sebagai orang nomer satu di Aceh Barat, tapi yang paling menyentuh adalah saat Mahdi Efendi selaku PJ Bupati Aceh Barat secara bijaksana meminta maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Barat, tanpa mencari “kambing hitam” siapa yang salah terkait semua kritikkan kepada dirinya di saat banjir melanda daerah yang di Pimpinnya tersebut.

Permintaan maaf itu di sampaikan Mahdi secara terbuka setelah Ia dituduh oleh kelompok tertentu jika Ia tidak berempati kepada masyarakat korban banjir, padahal saat banjir melanda, informasinya Mahdi sedang berada di Jakarta melakukan beberapa komunikasi dengan Pemerintah pusat dan loby anggaran demi membangun Aceh Barat.

Di samping itu, Ia tetap memantau kondisi banjir Aceh Barat meskipun sedang berada di Jakarta, bahkan dikabarkan juga saat itu Mahdi dalam kondisi kurang sehat, namun pikirannya tetap ia curahkan untuk kepentingan Daerah yang di Pimpinnya saat ini.

Mahdi tetap memikirkan Daerah yang di Pimpinnya saat ini walau dari jauh, Ia menginstruksikan dinas terkait untuk turun ke beberapa titik lokasi banjir, serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat Aceh Barat yang menjadi korban banjir.

Sementara di sisi lain banyak juga masyarakat yang menyayangkan beredarnya isuee negatif yang patut diduga sengaja telah digiring oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan opini negatif terhadap Mahdi.

Entah apa tujuan penggiringan issue negatif terhadap Mahdi Efendi yang kesannya seperti ingin memprovokasi masyarakat Aceh Barat supaya tidak menyukai Pj Bupati yang baru saja sedang bekerja membangun “Bumi Teuku Umar”.

Saat ini, Mahdi seperti berada dalam “banjir” fitnah yang entah kapan surutnya, pun demikian, terlukis di wajahnya semangat juang untuk membangun Aceh Barat, bahkan tersirat niat baiknya tak pernah pudar demi kebaikkan daerah yang di Pimpinnya, jika masyarakat dapat lebih tenang melihat derap langkah kerjanya, maka akan kelihatan keseriusannya membawa Aceh Barat keluar dari zona merah tingginya angka stunting selama ini, walau baru saja menjabat selaku PJ Bupati Aceh Barat, Mahdi kelihatan telah berupaya keras menekan inflasi, salah satunya dengan menggelar pasar murah.

Hingga saat ini, Pj Bupati Aceh Barat belum merespon isuee – isuee negatif yang diarahkan kepada dirinya, Mahdi tampaknya tidak ingin terprovokasi dengan berbagai upaya pihak tertentu yang terus menggiring Opini negatif kepadanya, apalagi melayaninya dengan berbalas pantun di media.

Sikap Mahdi yang tenang dalam menghadapi banjir fitnah kepada dirinya telah menunjukkan bahwa Ia sosok Pemimpin yang Bijaksana dan mempunyai prinsip kesabaran yang luar biasa dalam membangun Daerah, ini patut dicontoh, bahwa tidak semua tudingan atau stigma negatif yang di suarakan secara arogan tak beretika selama ini oleh sekelompok orang tertentu, adakalanya harus di sikapi dengan menggunakan pepatah kuno “anjing menggonggong kafilah berlalu” agar Program pembangunan demi kesejahteraan masyarakat berhasil sampai ke tujuan dengan baik.

Artinya, biarlah diterpa isuee negatif dan dilanda “banjir” fitnah, tapi kaki harus tetap kuat dan sabar dalam melangkah demi pembangunan daerah seperti yang dicita-citakan oleh Pemerintah bersama masyarakatnya.

Pj Bupati juga menegaskan bahwa dirinya terbuka dengan semua pihak, termasuk dengan wartawan, apalagi selama bertugas di Kesbangpol Aceh, Mahdi memang dikenal dekat dengan awak media.

Hal itu pun ditegaskan saat dihubungi oleh salah satu media online.

Saat ia menjadi camatpun, wartawan slalu menjadi mitra kerjanya, sehingga Ia menganggap tidak ada alasan baginya untuk tidak dekat dan terbuka dengan wartawan, “Saya memang selalu berada di lapangan dan sangat dekat dengan wartawan,” ucapnya kepada salah satu media online di Aceh.

 

Penulis : Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *