Oleh : Heru Riyadi, SH.,MH.
Penasehat AMKI & Dosen FH. Universitas Pamulang
MITRAPOL.com, Jakarta – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik dengan Iran menuai sorotan internasional. Sinyal kebijakan yang dinilai tidak konsisten—antara dorongan diplomasi dan pengerahan kekuatan militer—memicu kebingungan di kalangan sekutu Washington.
Dalam berbagai pernyataannya, Trump menegaskan bahwa jalur negosiasi tetap menjadi opsi utama untuk meredakan ketegangan. Namun, retorika keras yang menyertai pernyataan tersebut, termasuk ancaman akan “terus menghancurkan mereka”, justru menimbulkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik.
Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyatakan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan jalur diplomasi. Meski demikian, pendekatan tersebut dinilai bertolak belakang dengan langkah militer yang diambil secara bersamaan.
Kondisi ini memperlihatkan adanya dualisme strategi yang memunculkan ketidakpastian dalam arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Sejumlah diplomat dari kawasan Eropa, Asia, hingga Asia Barat mengaku kesulitan membaca strategi Washington.
Salah satu diplomat Asia, seperti dikutip Politico, menyatakan kebingungannya terhadap langkah yang diambil pemerintah AS.
“Saya tidak tahu apa yang mereka coba lakukan,” ujarnya.
Diplomat lainnya menilai bahwa baik Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri belum memberikan penjelasan komprehensif terkait arah kebijakan, khususnya di tengah peningkatan aktivitas militer.
Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan ribuan personel tambahan, termasuk Marinir dan unit dari Divisi Lintas Udara ke-82, sebagai bentuk kesiapan menghadapi kemungkinan konflik terbuka.
Di sisi lain, Trump mengklaim adanya perkembangan positif dalam jalur negosiasi, termasuk penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama sepuluh hari.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Sejumlah mediator yang dikutip The Wall Street Journal menyebut bahwa Teheran tidak pernah mengajukan permintaan tersebut.
Analis senior dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai kebijakan AS tidak konsisten.
“Jika Trump serius tentang de-eskalasi, dia akan menunda pengerahan pasukan,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan, khususnya di sekitar Selat Hormuz, mulai berdampak pada stabilitas ekonomi global. Gangguan distribusi energi dan perdagangan dilaporkan mulai dirasakan sejumlah negara mitra.
Beberapa sekutu awalnya melihat peluang meredakan konflik setelah muncul sinyal diplomatik. Namun, langkah militer yang agresif justru memperburuk tingkat kepercayaan.
Seorang diplomat Asia menyebut bahwa pengerahan aset militer dalam skala besar berpotensi menimbulkan biaya tinggi jika pada akhirnya ditarik kembali.
Sementara itu, diplomat dari Eropa menilai ambiguitas kebijakan ini bisa jadi merupakan strategi.
“Pemerintah memiliki ruang untuk mundur dan mengklaim kemenangan, atau justru meningkatkan eskalasi,” ujarnya.
Amerika Serikat dilaporkan berupaya membuka jalur komunikasi melalui Pakistan. Di sisi lain, pihak Kabul menyatakan bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri.
Hingga saat ini, arah kebijakan Washington terhadap konflik tersebut masih belum menunjukkan kejelasan, sehingga memunculkan ketidakpastian di tingkat global, baik bagi sekutu maupun stabilitas kawasan.
Sumber: Kantor Berita Al Mayadeen












