Opini

Logistik Perkeretaapian Sumatera Utara: Potensi Besar yang Masih Terhambat Infrastruktur

Admin
×

Logistik Perkeretaapian Sumatera Utara: Potensi Besar yang Masih Terhambat Infrastruktur

Sebarkan artikel ini
Logistik Perkeretaapian Sumatera Utara
Djoko Setijowarno Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Pen-asehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Oleh: Djoko Setijowarno
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

MITRAPOL.com, Jakarta – Pembangunan sistem logistik nasional tidak dapat dilepaskan dari peran transportasi perkeretaapian. Di tengah meningkatnya kebutuhan distribusi barang yang efisien, kereta api menawarkan berbagai keunggulan, mulai dari kapasitas angkut besar, biaya operasional yang lebih kompetitif, hingga tingkat keselamatan yang lebih baik dibandingkan angkutan jalan raya.

Di Sumatera Utara, potensi tersebut sesungguhnya sudah mulai terlihat. Wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan menjadi salah satu simpul logistik penting di Pulau Sumatera dengan melayani angkutan Crude Palm Oil (CPO), peti kemas, dan bahan bakar minyak (BBM). Namun, di balik besarnya potensi tersebut, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang menghambat optimalisasi moda transportasi berbasis rel.

Tiga Komoditas Menjadi Tulang Punggung

Saat ini, jaringan logistik kereta api di Sumatera Utara melayani sekitar 26 perjalanan kereta barang setiap hari. Sebagian besar didominasi oleh angkutan CPO, peti kemas, dan BBM.

Komoditas CPO menjadi penyumbang frekuensi perjalanan terbesar dengan 14 perjalanan per hari melalui sejumlah layanan khusus yang menghubungkan kawasan perkebunan menuju pelabuhan ekspor.

Sementara itu, angkutan peti kemas dilayani delapan perjalanan setiap hari yang menghubungkan kawasan industri menuju Pelabuhan Belawan maupun Kuala Tanjung. Adapun distribusi BBM dilakukan melalui empat perjalanan harian menggunakan kereta tangki menuju berbagai daerah di Sumatera Utara.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kereta api telah menjadi bagian penting dalam mendukung rantai pasok industri strategis nasional.

Pertumbuhan Belum Merata

Data operasional menunjukkan bahwa sektor logistik berbasis rel sebenarnya mengalami perkembangan positif, meski tidak merata pada setiap komoditas.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, volume angkutan peti kemas meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Angkutan BBM juga mencatat pertumbuhan yang cukup baik.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada komoditas CPO yang justru mengalami penurunan sangat tajam.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa angkutan kereta api masih sangat dipengaruhi dinamika pasar dan perubahan pola distribusi industri. Ketika perusahaan memilih mengirim CPO langsung menggunakan truk menuju pelabuhan atau pabrik pengolahan, volume angkutan berbasis rel otomatis mengalami penurunan.

Ketergantungan terhadap beberapa komoditas utama menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi agar kinerja logistik kereta api tidak mudah berfluktuasi.

Jalur Tunggal Menjadi Hambatan

Persoalan terbesar transportasi rel di Sumatera Utara bukan terletak pada permintaan pasar, melainkan keterbatasan infrastruktur.

Sebagian besar jaringan rel masih menggunakan jalur tunggal (single track). Kondisi tersebut menyebabkan kapasitas lintasan menjadi terbatas karena harus berbagi dengan perjalanan kereta penumpang.

Ketika frekuensi kereta penumpang meningkat, terutama setelah adanya subsidi layanan Public Service Obligation (PSO), ruang operasi kereta barang otomatis semakin sempit. Akibatnya, waktu tempuh distribusi logistik menjadi lebih panjang dan daya saing terhadap angkutan jalan raya ikut menurun.

Di sisi lain, hasil evaluasi Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA) juga menunjukkan masih tingginya pembatalan slot perjalanan kereta barang yang sebelumnya telah dijadwalkan.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya ketidakpastian pasokan barang maupun belum optimalnya koordinasi antara operator dengan pengguna jasa logistik.

Tantangan Tidak Hanya Infrastruktur

Selain keterbatasan kapasitas lintasan, terdapat sejumlah tantangan lain yang perlu mendapat perhatian serius.

Pertama, faktor bencana hidrometeorologi. Curah hujan tinggi di Sumatera Utara menjadikan sejumlah jalur rel rentan terhadap banjir maupun longsor. Gangguan prasarana akibat cuaca ekstrem dapat menghambat kelancaran distribusi logistik.

Kedua, belum terintegrasinya kawasan industri dengan jaringan rel. Banyak sentra perkebunan maupun kawasan industri belum memiliki jalur khusus (rail spur) yang langsung terhubung ke stasiun.

Akibatnya, perusahaan harus menggunakan truk untuk mengangkut barang menuju stasiun sebelum dipindahkan ke kereta api. Proses ini menambah biaya logistik karena terjadi double handling.

Ketiga, angkutan jalan raya masih menawarkan layanan yang lebih fleksibel. Sistem door to door membuat truk tetap menjadi pilihan utama sebagian pelaku usaha meskipun kereta api memiliki kapasitas angkut yang jauh lebih besar dan lebih ramah lingkungan.

Peluang Masih Sangat Terbuka

Meski menghadapi berbagai tantangan, prospek logistik perkeretaapian Sumatera Utara tetap sangat menjanjikan.

Keberadaan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan internasional, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, serta berbagai sentra perkebunan sawit merupakan modal besar untuk memperkuat distribusi barang berbasis rel.

Potensi tersebut akan semakin optimal apabila didukung pembangunan jalur ganda (double track), peningkatan ketahanan infrastruktur terhadap bencana, pengembangan jalur khusus menuju kawasan industri, serta kebijakan tarif yang lebih fleksibel melalui skema kerja sama bisnis (Business to Business/B2B).

Integrasi moda transportasi dari hulu hingga hilir menjadi kunci agar kereta api mampu bersaing dengan angkutan jalan raya.

Saatnya Menjadikan Kereta Api sebagai Tulang Punggung Logistik

Transformasi logistik nasional tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan jalan tol dan pelabuhan. Moda transportasi rel harus memperoleh perhatian yang sama karena memiliki keunggulan dalam mengangkut barang dalam jumlah besar secara efisien, aman, dan berkelanjutan.

Optimalisasi angkutan barang berbasis kereta api di Sumatera Utara membutuhkan sinergi antara pemerintah, operator perkeretaapian, pelaku industri, serta pemerintah daerah. Investasi infrastruktur, peningkatan konektivitas first mile dan last mile, serta penguatan integrasi kawasan industri dengan jaringan rel harus menjadi agenda bersama.

Apabila berbagai hambatan tersebut dapat diatasi, Sumatera Utara berpeluang menjadikan kereta api sebagai tulang punggung logistik regional yang mampu meningkatkan daya saing ekonomi sekaligus mendukung efisiensi sistem distribusi nasional.