MITRAPOL.com, Sabang – Menjelang peringatan Hari Bumi pada 22 April, aktivis lingkungan di Kota Sabang mengingatkan pentingnya menjaga akses publik terhadap sempadan pantai serta memperkuat komitmen pelestarian lingkungan.
Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia Kawasan Laut Hutan dan Industri (DPD LPLHI-KLHI) Kota Sabang menyerukan aksi lingkungan sebagai momentum meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat.
Ketua DPD LPLHI-KLHI Sabang, Syukri atau yang dikenal sebagai T. Bayu, menegaskan bahwa peringatan Hari Bumi tidak boleh sekadar seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata menghadapi ancaman krisis iklim.
“Apresiasi terhadap alam harus diwujudkan melalui tindakan konkret untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya. Senin (6/4).
Ia mengingatkan bahwa sekitar 40 ribu warga menggantungkan hidup di Pulau Weh yang memiliki kerentanan ekologis tinggi, mengingat letaknya yang berbatasan langsung dengan perairan internasional Selat Malaka.
Menurutnya, rencana menjadikan Sabang sebagai destinasi wisata unggulan harus diiringi dengan komitmen menjaga keaslian dan kebersihan lingkungan.
“Daya tarik utama Sabang adalah kelestarian alamnya. Jika itu rusak, maka sektor wisata juga akan terdampak,” katanya.
T. Bayu menyoroti persoalan sampah plastik yang dinilai menjadi ancaman serius, baik bagi daratan maupun ekosistem laut.
Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai demi menjaga kesuburan tanah serta kelangsungan flora dan fauna.
Selain itu, limbah plastik di laut juga dinilai membahayakan biota serta mengancam sektor perikanan dan wisata bahari yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Dalam pernyataannya, T. Bayu juga mengkritisi pemanfaatan ruang laut yang dinilai semakin masif.
Ia menegaskan agar sempadan pantai tidak ditutup atau diprivatisasi sehingga tetap dapat diakses oleh masyarakat umum.
“Wilayah pesisir harus tetap terbuka dan dapat dinikmati bersama, bukan hanya oleh pihak tertentu,” tegasnya.
Selain kawasan pesisir, perhatian juga diberikan pada kelestarian hutan lindung di Pulau Weh.
Menurutnya, keberadaan hutan sangat penting untuk menjaga ketersediaan sumber air bersih bagi masyarakat.
Tanpa hutan yang terjaga, ancaman krisis air bersih dapat terjadi di masa depan.
Melalui seruan ini, masyarakat diajak untuk mulai melakukan langkah sederhana seperti mengurangi sampah plastik, menghemat energi, dan menanam pohon.
Edukasi lingkungan sejak dini juga dinilai penting untuk membangun kesadaran generasi muda dalam menjaga alam.
T. Bayu menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian lingkungan sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat.
“Jika bukan kita yang menjaga alam ini, lalu siapa lagi?” ujarnya.











