MITRAPOL.com, Jakarta – Mengantisipasi potensi musim kemarau dan fenomena El Nino, PTPN IV PalmCo memperkuat sistem deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta strategi agronomi adaptif guna menjaga produktivitas perkebunan.
Isu kemarau ekstrem yang belakangan disebut “El Nino Godzilla” memicu kewaspadaan berbagai pihak, termasuk sektor perkebunan kelapa sawit. Meski istilah tersebut dinilai tidak ilmiah, potensi kekeringan tetap menjadi perhatian serius.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menegaskan bahwa klasifikasi El Nino secara ilmiah hanya terdiri dari kategori lemah, moderat, dan kuat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut peluang terjadinya El Nino lemah hingga moderat setelah semester kedua mencapai 50–60 persen.
“Istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian klimatologi. Saat ini prediksi kami menunjukkan peluang El Nino lemah hingga moderat,” ujarnya. Selasa (31/3).
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, mengatakan perusahaan mengambil langkah konservatif dengan menyiapkan mitigasi sejak dini.
“Kami tidak ingin mengambil risiko. Kesiapsiagaan kami jalankan seolah menghadapi skenario terburuk,” katanya.
Salah satu fokus utama adalah pencegahan karhutla melalui pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama ARFINA (Artificial Intelligence Fire Monitoring Integrated Ground Checking Nusantara).
Sistem ini memungkinkan pemantauan titik panas secara real time sehingga potensi kebakaran dapat dideteksi lebih cepat sebelum meluas.
Selain teknologi, perusahaan juga memperkuat infrastruktur pendukung, seperti pembangunan embung dan sekat kanal di wilayah rawan kekeringan.
Upaya ini diperkuat dengan kolaborasi bersama aparat TNI dan Polri melalui patroli terpadu serta kesiapsiagaan tanggap darurat karhutla.
Kemarau panjang tidak hanya berisiko memicu kebakaran, tetapi juga berdampak pada produktivitas tanaman kelapa sawit.
Menurut Jatmiko, kekeringan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan hasil produksi, hingga meningkatnya serangan hama.
“Kemarau panjang membawa efek domino, mulai dari stres tanaman hingga penurunan rendemen,” jelasnya.
Tanaman belum menghasilkan (TBM) menjadi yang paling rentan karena sistem perakaran yang belum optimal.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, perusahaan menerapkan strategi agronomi adaptif, termasuk pengelolaan kelembapan tanah dan tata kelola air yang lebih efisien.
Langkah ini bertujuan menjaga kondisi tanaman tetap optimal serta memastikan keberlanjutan produksi di tengah tekanan perubahan iklim.
Dengan berbagai strategi tersebut, PTPN IV PalmCo berharap dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan sosial selama musim kemarau.












