Scroll untuk baca artikel
Hukum

Polisi untuk Apa? Mengembalikan Wajah Kepolisian sebagai Penjaga Kehidupan

Madalin
×

Polisi untuk Apa? Mengembalikan Wajah Kepolisian sebagai Penjaga Kehidupan

Sebarkan artikel ini
Reformasi kepolisian menuju polisi humanis dan professional.
ILUSTRASI: Kepolisian Modern. Reformasi kepolisian tidak hanya berkaitan dengan perubahan organisasi dan teknologi, tetapi juga transformasi budaya menuju pemolisian yang profesional, humanis, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Polisi yang humanis bukan berarti polisi yang lemah, tapi adalah polisi yang mampu menggunakan kewenangan secara tepat tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Polisi sebagai Penjaga Kehidupan

Pemikiran Chryshnanda Dwilaksana mengenai polisi sebagai Penjaga Kehidupan, Pembangun Peradaban, dan Pejuang Kemanusiaan memberikan perspektif menarik untuk membaca kembali arah reformasi kultural.

Konsep pertama adalah polisi sebagai Penjaga Kehidupan.

Apa yang sebenarnya dijaga? Bukan hanya gedung, jalan, kantor, kendaraan, atau benda-benda fisik.

Yang dijaga adalah kehidupan manusia beserta seluruh aktivitas yang memungkinkan kehidupan tersebut berlangsung.

• keamanan memungkinkan seseorang pergi bekerja

• keamanan memungkinkan anak pergi sekolah

• keamanan memungkinkan perdagangan berlangsung

• keamanan memungkinkan kegiatan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pelayanan publik, dan interaksi sosial berjalan

Dengan kata lain, keamanan bukan tujuan yang berdiri sendiri. Keamanan menjadi kondisi yang memungkinkan masyarakat hidup, bergerak, bekerja, berproduksi, dan berkembang.

Maka ukuran keberhasilan pemolisian tidak semestinya hanya dihitung dari berapa banyak kegiatan yang dilakukan, berapa banyak patroli dilaksanakan, atau berapa banyak kasus ditindak.

Pertanyaan yang lebih substantif adalah:

• Apakah kehadiran polisi mampu mengurangi ancaman terhadap kehidupan masyarakat?

• Apakah masyarakat menjadi lebih aman?

• Apakah persoalan dapat diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar?

• Apakah masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya dengan lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggeser orientasi dari sekadar aktivitas menuju hasil.

Polisi Tidak Selalu Harus Datang Setelah Masalah Terjadi

Salah satu tantangan pemolisian modern adalah kecenderungan bekerja setelah masalah terjadi.

• ada laporan, polisi datang

• ada kejahatan, polisi menindak

• ada konflik, polisi turun

Padahal, banyak persoalan keamanan sebenarnya dapat dikenali sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.

Di sinilah pendekatan problem-oriented policing menjadi relevan.