Scroll untuk baca artikel
Hukum

Polisi untuk Apa? Mengembalikan Wajah Kepolisian sebagai Penjaga Kehidupan

Madalin
×

Polisi untuk Apa? Mengembalikan Wajah Kepolisian sebagai Penjaga Kehidupan

Sebarkan artikel ini
Reformasi kepolisian menuju polisi humanis dan professional.
ILUSTRASI: Kepolisian Modern. Reformasi kepolisian tidak hanya berkaitan dengan perubahan organisasi dan teknologi, tetapi juga transformasi budaya menuju pemolisian yang profesional, humanis, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Polisi tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”

Tetapi juga:

• Mengapa masalah itu terjadi?

• Apa penyebabnya?

• Siapa saja yang terkait?

• Apa risiko jika masalah tersebut dibiarkan?

• Apa solusi yang paling tepat?

Dengan cara berpikir seperti itu, polisi tidak sekadar menjadi pemadam kebakaran sosial. Polisi menjadi bagian dari upaya menyelesaikan persoalan.

Masyarakat Bukan Objek

Perubahan berikutnya adalah cara melihat masyarakat.

Masyarakat bukan sekadar objek yang harus dikendalikan, masyarakat adalah mitra dalam menciptakan keamanan, dan keamanan tidak mungkin diproduksi polisi seorang diri.

Polisi membutuhkan masyarakat, pemerintah membutuhkan masyarakat. Dunia usaha, sekolah, kampus, tokoh masyarakat, komunitas, dan berbagai kelompok sosial juga memiliki peran.

Karena itu, pemolisian membutuhkan kemitraan.

Ketika masyarakat dilibatkan dalam mengidentifikasi persoalan, mencari solusi, dan mencegah gangguan keamanan, maka hubungan polisi dan masyarakat tidak lagi sekadar hubungan antara aparat dan objek yang diawasi.

Hubungan itu berubah menjadi kemitraan untuk menciptakan rasa aman.

Di titik inilah kepercayaan menjadi penting, kepercayaan publik tidak lahir dari slogan—Ia lahir dari pengalaman.

Masyarakat menilai polisi bukan hanya dari apa yang dikatakan institusi, tetapi dari apa yang mereka alami ketika berhadapan dengan polisi.

• Apakah mereka didengar?

• Apakah diperlakukan secara adil?

• Apakah mendapatkan pelayanan?

• Apakah hukum diterapkan secara profesional?

• Apakah kewenangan digunakan secara proporsional?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya membentuk pengalaman masyarakat terhadap kepolisian. Dan dari pengalaman itulah kepercayaan tumbuh atau sebaliknya.

Reformasi Kultural Dimulai dari Manusia

Karena itu, reformasi kultural pada akhirnya kembali kepada manusia.

Dimulai dari mindset, kemudian membentuk values, diterjemahkan menjadi ethics, terlihat dalam behaviour, diwujudkan dalam praktik pemolisian, dirasakan masyarakat, kemudian berkontribusi terhadap public trust dan legitimacy.