Scroll untuk baca artikel
Hukum

Polisi untuk Apa? Mengembalikan Wajah Kepolisian sebagai Penjaga Kehidupan

Madalin
×

Polisi untuk Apa? Mengembalikan Wajah Kepolisian sebagai Penjaga Kehidupan

Sebarkan artikel ini
Reformasi kepolisian menuju polisi humanis dan professional.
ILUSTRASI: Kepolisian Modern. Reformasi kepolisian tidak hanya berkaitan dengan perubahan organisasi dan teknologi, tetapi juga transformasi budaya menuju pemolisian yang profesional, humanis, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Karena itu, modernisasi kepolisian harus berjalan bersama reformasi kultural. Jangan sampai institusi menjadi semakin canggih secara teknologi, tetapi hubungan manusia dengan manusia justru semakin jauh.

Pemimpin Menjadi Kunci

Tidak ada reformasi kultural tanpa kepemimpinan.

Budaya organisasi tidak hanya dibangun melalui slogan. Budaya dibentuk melalui apa yang dicontohkan pemimpin, apa yang dihargai, apa yang diberikan penghargaan, apa yang dikenai sanksi, serta bagaimana kewenangan digunakan.

Jika organisasi mengatakan pelayanan adalah prioritas, maka sistem penghargaan harus menghargai anggota yang memberikan pelayanan berkualitas.

Jika pemecahan masalah menjadi orientasi, maka anggota yang mampu menyelesaikan masalah masyarakat harus mendapatkan apresiasi.

Jika profesionalisme menjadi nilai, maka pelanggaran etik harus ditangani secara konsisten.

Jika akuntabilitas menjadi prinsip, maka mekanisme pengawasan harus benar-benar bekerja.

Dengan kata lain, reformasi kultural membutuhkan konsistensi antara apa yang dikatakan organisasi dan apa yang dilakukan anggotanya.

Mengukur Reformasi dari Pengalaman Masyarakat

Mungkin inilah perubahan paling penting. Ukuran reformasi tidak cukup hanya berasal dari dalam organisasi, reformasi harus dilihat dari pengalaman masyarakat.

• Apakah masyarakat merasa lebih aman?

• Apakah pelayanan lebih mudah?

• Apakah persoalan lebih cepat diselesaikan?

• Apakah konflik dapat dicegah?

• Apakah korban mendapatkan perlindungan?

• Apakah masyarakat merasa diperlakukan secara adil?

• Apakah kewenangan dijalankan secara profesional?

• Apakah masyarakat memiliki kepercayaan terhadap polisi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada satu rangkaian pemikiran:

Mindset → Values → Ethics → Behaviour → Policing → Trust → Legitimacy.

• Reformasi dimulai dari pikiran.

• Pikiran melahirkan nilai.

• Nilai membentuk etika.

• Etika terlihat dalam perilaku.

• Perilaku menghasilkan praktik pemolisian.

• Praktik pemolisian dirasakan masyarakat.

• Pengalaman tersebut memengaruhi kepercayaan.

• Dan kepercayaan menjadi salah satu fondasi legitimasi.